Hari itu 2 September 2009 gempa bumi 7,3 skala richter menghantam Jawa Barat. Pusat gempa berada di Kabupaten Tasikmalaya. Tapi bukan hanya Tasik yang digoncang. Daerah-daerah lain seperti Garut, Cianjur, Ciamis juga terkena bencana dahsyat itu. Aku yang hari itu akan berangkat ke Bekasi untuk menjenguk teman yang dirawat di rumah sakit juga merasakan hentakan bumi itu. Pada saat itu aku hanya memantau berita di TV dan dari facebook. Esoknya setelah aku pulang dari Bekasi dan beres kuliah hari itu, aku mendapat telpon dari sekretariat Palawa Unpad untuk segera merapat. Aku akan dikirim menjadi relawan bagi korban gempa bumi di Pangalengan. Ternyata daerah pegunungan itu juga terkena bencana naas itu. Aku tidak pikir panjang dan segera packing untuk berangkat. Aku berangkat bersama beberapa mahasiswa Unpad lain yang juga dikirim untuk menjadi relawan di sana. Aku sangat senang karena dari dulu aku mempunyai keinginan untuk melakukan hal yang berguna dan riil bagi sesamaku. Ini akan jadi pengalaman pertama dan tidak akan pernah aku lupakan.
Sekitar jam 7 malam kami tiba di Desa Margamukti Kecamatan Pangalengan. Di sana sudah ada beberapa teman yang datang duluan. Kami pun segera merapikan barang-barang dan membantu apa yang bisa kami bantu. Kami lalu berkumpul untuk membuat pembagian tugas untuk esok hari. Malam itu aku agak susah untuk terlelap karena diliputi rasa yang campur aduk. Excited, tegang dan penasaran. Keesokan harinya aku mendapat tugas untuk mendata satu daerah yang hampir semua rumahnya rata dengan tanah. Waktu aku melihat rumah yang sudah roboh, warga yang terduduk dengan pandangan kosong serta anak kecil di pengungsian aku tidak tahu harus berkata apa. Rasa kasihan, rasa sedih, rasa kesal, rasa bersyukur menjadi satu dalam dadaku. Kasihan dan sedih melihat ibu yang sedang menidurkan anaknya yang menangis karena susah untuk bernapas, nenek yang terbaring lemah karena memang sudah tua dan tidak bisa berbuat apa-apa, kesal karena mereka tidak mendapatkan bantuan yang layak dari pemerintah, bersyukur karena bukan keluargaku yang mendapatkan musibah itu dan mereka masih baik-baik saja sampai detik ini.
Selama kurang lebih 4 hari aku berada di tempat kejadian. Aku banyak mendapati hal yang tidak pernah aku lihat sebelumnya. Ibu-ibu yang panik mendengar ada gempa susulan, pemuda yang sebenarnya penyabar menjadi emosi karena urusan perut, nenek yang menangis tersedu-sedu karena kehilangan anaknya yang tertimpa bangunan, seorang bapak yang mendatangi posko relawan tengah malam hanya untuk sekedar mencari kain untuk menjadi pintu gubuk mereka sebagai tempat tinggal sementara karena anak dan istrinya kedinginan, anak-anak yang berlarian dan tertawa senang karena dibagikan permen seakan tidak ada yang terjadi. Banyak pelajaran yang bisa kupetik dalam kurun waktu yang bisa dibilang sebentar itu. Aku belajar bahwa tidak ada yang bisa melawan kehendak Sang Pencipta. Aku belajar bahwa di dunia ini masih banyak orang-orang yang jauh lebih menderita dan tidak seharusnya aku terus mengeluh atas keadaan yang aku alami yang tidak sebanding dengan apa yang dialami orang-orang tersebut. Aku belajar bahwa terkadang kita harus terjun langsung dan melihat kenyataan hidup yang ada. Aku belajar bahwa kita bisa menolong sesama walaupun kita tidak pernah sama sekali mengenal orang tersebut karena itulah yang diperintahkan oleh Yang Maha Kuasa untuk saling mengasihi.






Tidak ada komentar:
Posting Komentar