Senin, 03 Juli 2017

Fat Is Not Crime; Curhat Seorang Wanita Berbobot Lebih

"Beauty is not about looks, make up or clothes. True beauty comes from being yourself"
"Beauty is not in the face, beauty is a light in the heart"

Ah masa sih? Quotes-quotes begituan menguatkan hati gak sih? Hey, saya nanya sama kamu. Iya, kamu. Yang kadang-kadang gak pede sama diri sendiri karena bentuk dan penampilan. Eh, lupa. Saya lagi ngaca dan monolog.

Setiap akan pulang kampung atau mau ketemu orang setelah sekian lama, hal pertama yang udah pasti saya pikirin adalah saya tambah gendut atau engga. Kalo gak tambah gendut berarti gak apa-apa, kalo tambah gendut siap-siapin deh telinga dan hati yang gondok karena ketemu orang, bentuk badan pasti dikomentarin. Selain pertanyaan 'kapan nikah' beberapa tahun ini pertanyaan 'kok kamu makin gendut sih?' jadi momok tiap pulang dari perantauan. Kok bisa sih saya mikirin ini? Udah kayak cewek-cewek aja. Ya iyalah. Saya kan emang cewek tulen setulen-tulennya.

Dari dulu sampe sekarang, saya gak pernah mikirin bentuk dan berat badan. Ada makanan ya hajar, makin gede ya bodo amat. Yang penting sehat. Prinsipnya gitu. Tapi menjadi orang dewasa dengan pemikiran yang rumit ini membawa saya atau kita memikirkan hal-hal yang seharusnya gak dipikirin. Sebelum dan sesudah punya pacar pun saya benar-benar tidak terlalu mengambil pusing hal-hal berkaitan bobot ini. Namun sayang seribu sayang, tuntutan lingkungan dan zaman menjadikan kita mendengar apa yang seharusnya gak kita dengarkan.

Semenjak peradaban manusia ada, saya yakin seyakin-yakinnya standar wanita cantik pasti selalu ada. Standar itu yang kemudian berubah tiap zaman tergantung pembentukan opini dan terntunya selera publik. Selama saya hidup sih, standar wanita cantik itu tinggi, langsing, putih, rambut panjang. Pokoknya bentuk badan yang proporsional. Kadang ditambahkan pintar dan berperilaku baik. Namun dua syarat yang terakhir itu gak bisa berdiri sendiri. Dua itu menjadi perhitungan kalo yang pertama tadi itu ada. Kalo yang pertama itu gak ada percuma oh percumaaa...

Diledekin gendut buat saya biasa saja dari dulu juga. Orang bentuk badan saya yang aduhay ini kadang jadi bahan bercandaan saya sendiri kok. Istilahnya ngebully diri sendiri. Tapi ini bakal berbeda kalo ada satu atau dua orang yang tiap ketemu selalu ngebahas atau ngeledekin hal yang sama. Kayak gak ada bahan lain gitu. Apalagi kalo gak akrab-akrab banget. Gimana coba, Kalo buat saya sih itu niatnya emang pengen merendahkan atau emang kelewat gak kreatif buat nyari bahan basa basi. Sayangnya ketidakkreatifan beliau-beliau ini bikin orang-orang yang woles kayak saya jadi sensi. Kalian coba deh yang masih single ditanyain kapan nikah mulu sama orang yang sama tiap ketemu. Pasti bosen kan? Pengen nendang orangnya ke planet namek. Menjadi gendut itu kan pilihan orang. Makan banyak dan gak diet itu pilihan orang. Fat is not crime, brooo. Kecuali makanannya nyolong nah itu baru crime. Kalo makanannya beli sendiri ya hak dia dong mau dimakan semua atau dibagi-bagi. Kalo ngomongin masalah kesehatan, saya sih berterima kasih kalo diingetin makan terlalu banyak itu bisa bikin banyak penyakit apalagi kalo gak pernah olahraga. Tapi apapun yang disampaikan dengan cara yang tidak baik pasti gak akan diterima dengan baik. Alesannya mau ngingetin buat jaga kesehatan tapi caranya ya ngatain. Orang yang dinasehatin juga malas kelesss.

Saya juga yakin seyakin-yakinnya kalo keresahan ini tidak hanya terjadi pada kaum wanita tapi juga pada kaum pria. Udah, ngaku aja. Pria emang dasarnya lebih cuek sama penampilan tapi pasti ada satu titik di mana pria yang tidak berbadan proporsional akan mengeluhkan hal yang sama jika ada yang melakukan body-shaming. Cuma emang yang baper akan tetap kebanyakan kaum wanita karena beginilah kita dan perasaan kita yang sensitif ini.

Jadi saudara-saudaraku sekalian yang hidupnya sempurna, ada beberapa pertanyaan yang buat kita biasa aja tapi bagi orang lain sangat mengganggu." Kok umur segini belum nikah?", "Udah nikah berapa tahun? Udah punya momongan?", "Kok anaknya cuma satu aja?", adalah beberapa contoh pertanyaan yang sangat mengganggu kalo ditanyakan berulang-ulang, Sama kayak komentar tentang tampilan fisik seseorang. Sekali dua kali bisa jadi itu perhatian, lebih dari itu saya simpulkan adalah sebuah ledekan atau bentuk ketidakkreatifan dalam berbincang atau bercanda.

Ya begitulah. Udah ya, saya mau makan dulu. Laper.



,





Share:

Sabtu, 08 April 2017

Barana' ; Tiga Tahun Belajar Kehidupan

"High school is when you start to realize who really matters, who never did and who always will" - Unknown - 

SMU Kristen Barana' di bawah naungan YPKT
Lahir dengan satu tekad mencerdaskan kehidupan bangsa...

Semuanya bermula ketika aku diutus oleh sekolah menengah pertamaku untuk ikut sebuah lomba bertajuk MIPA Kreatif di sebuah SMA yang terletak cukup jauh dari Kota Rantepao, tempatku bersekolah. Sekolah ini terkenal sebagai sekolah unggulan yang dicap terbaik saat itu. Ketika memasuki gerbangnya, bulu kudukku berdiri. "Sekolah macam apa ini?", kataku dalam hati. Aku, seorang anak SMP yang masih sangat polos memandang kagum dan takjub pada gedung sekolah yang tersusun rapi, aula yang besar, serta bangunan asrama siswa yang banyak dilindungi oleh pohon-pohon berbatang besar yang disebut pohon Barana'. Ketakjubanku tidak berhenti di situ. Siswa-siswa SMA tersebut muncul di depan kami dengan seragam orange mentereng namun mantap disertai langkah tegap yang penuh percaya diri. "Ini kakaknya kok keren-keren banget ya. Keliatannya pada pinter", kataku lagi dalam hati. Inilah kekuatan first impression. Aku berjanji dalam hati, lulus dari SMP aku harus masuk sekolah ini.


Gayung bersambut, nilai-nilaiku mendukung untuk aku bebas tes masuk ke dalam sekolah yang konon tidak mudah. Aku tidak sendiri, Aku bersama sekitar dua belas orang teman sekelasku juga mendaftar di sekolah tersebut. Sekolah ini mengharuskan setiap siswanya untuk tinggal di asrama selama menempuh pendidikan. Sebuah tantangan besar bagi para remaja labil seperti kami yang sudah terbiasa hidup nyaman bersama orang tua. Tapi demi kebaikan yang lebih besar serta dengan berpegang pada mimpi dan harapan kuberanikan diri menjalani hari-hari di sekolah itu. Dan tibalah hari pertama kami tercatat sebagai siswa SMA Kristen Barana'. Kala itu kami terhitung sebagai angkatan ke-12 berjumlah 74 orang. Sebagian besar adalah orang asli Toraja dan memang bersekolah di Toraja. Selebihnya orang Toraja yang berasal dari sekolah di luar Toraja. Bisa dibayangkan berpuluh-puluh orang dengan karakter yang berbeda dan berasal dari latar belakang yang berbeda harus hidup bersama selama 3 tahun full tanpa korting. Belum lagi dengan tambahan kakak kelas dua dan tiga, sekolah dan asrama bagai sebuah distrik kecil dengan segala kompleksitasnya. Sebuah kehidupan yang tidak akan mudah tetapi aku yakin bisa dilewati.

Setelah melalui masa orientasi sekolah yang rasanya seperti permen nano-nano -manis, asam, asin-, kehidupan yang sebenarnya dimulai. Kebiasaan yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya harus kujalani demi bertahan di tempat ini. Tidur beramai-ramai dalam satu kamar yang lebih cocok disebut bangsal, jadwal makan yang ditentukan oleh bunyi bel reot yang paling dinantikan di siang hari, ke sekolah tidak perlu membawa tas karena jarak asrama dan ruang kelas yang sangat dekat, mandi di sumur tradisional milik penduduk di kala kemarau datang dan masih banyak lagi yang tidak akan habis aku sebutkan satu per satu. Sadar tidak sadar kebiasaan itu membawa kami pada pribadi yang baru.


Kelas satu adalah masa adaptasi. Masa di mana ke-labil-an masa SMP masih terbawa. Masa di mana kami menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Masa di mana anak putri mempunyai kakak kelas idola dan berlomba-lomba untuk mendapat perhatian. Masa di mana anak putra yang sekarang tampak gagah, tampak sangat culun. Anak putra lebih aktif berkegiatan baik itu belajar maupun berolahraga. Kami anak putri lebih suka berada di kamar, bergosip atau tidur di atas kasur nyaman yang tertata rapi. Aku belum bisa menemukan jawaban mengapa kecenderungan seperti itu ada. Entah kebiasaan itu masih ada sampai sekarang atau sudah berubah. Pada tahun pertama ini juga kami mulai tahu dan paham tentang hubungan senior-junior -yang juga rasanya nanonano- yang pada akhirnya berubah menjadi hubungan adik-kakak. Pada tahun ini kami belajar untuk segan dan hormat kepada guru dan kakak kelas yang lebih dulu menghuni asrama. Kami belajar bahwa memasuki sebuah lingkungan baru membutuhkan penyesuaian dan rasa hormat kepada penghuni lama. Kami tidak boleh seenaknya dan harus mengikuti aturan sosial yang ada.



Kelas dua adalah masa paling santai sekaligus masa penuh kebingungan. Aku sebut masa paling santai karena kami sudah mulai menyesuaikan diri dengan kondisi asrama dan sekolah. Kami juga tidak perlu berpikir tentang masa orientasi seperti kelas satu dan berpikir tentang ujian akhir serta waktu meninggalkan asrama seperti kelas tiga. Aku sebut masa penuh kebingungan karena kami berada di tengah-tengah di antara adik dan kakak. Terkadang kami harus bersikap seperti kakak kepada kelas satu tetapi di sisi lain kami tetap harus bersikap seperti adik kala berhadapan dengan kelas tiga. Tetapi itu bukan suatu perkara besar. Kelas dua dapat kami lewati denga mulus dengan segala dramanya. Pada masa ini kami belajar bahwa hidup kadang menempatkan kita pada posisi yang nyaman sehingga harus segera sadar dan kembali mengingat apa tujuan awal. Masa ini juga memberi pelajaran bahwa terkadang hidup menempatkan kita pada posisi yang tidak enak sehingga kita harus pandai bersikap dan menempatkan diri agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.



Kelas tiga adalah masa paling nyaman sekaligus masa penuh tanda tanya. Aku sebut masa paling nyaman karena dua tahun terlewati dengan mulus. Kehidupan di sekolah dan asrama terasa mengalir seperti air. Kami leluasa dan dapat berekspresi sesuai dengan keinginan. Aku sebut penuh tanda tanya karena kami semakin dekat dengan tahap yang lain yaitu masa kuliah. Kami mulai bertanya-tanya tentang rencana selanjutnya dan bagaimana kami dapat mengakhiri masa-masa SMA dengan manis. Kami mulai belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir namun tentunya masih diisi oleh kegiatan-kegiatan asrama yang menyenangkan. Pada masa ini kami belajar bahwa suatu saat kita akan diberi tanggung jawab untuk menjadi contoh bahkan inspirasi bagi orang lain. Oleh karena itu kita harus belajar untuk bersikap dewasa. Masa ini juga mengajari kami untuk menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang ada.


Tidak ada satupun institusi pendidikan yang mengajarkan hal buruk kepada peserta didiknya. Apalagi sebuah sekolah dengan label "kristen". Namun tidak dapat dipungkiri dengan latar belakang berbeda dengan karakter yang berbeda dan tinggal di dalam atap yang sama tentu tidak membuat kami terhindar dari konflik. Hal itu adalah sesuatu yang wajar. Bukankah yang penting adalah bagaimana penyelesaiannya? Toh konflik dalam pandangan modern dianggap sebagai sebuah tantangan bagi sebuah kelompok atau organisasi untuk dapat berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik. Kecuali bagi yang masih berpikiran tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Anda termasuk yang mana? :p

Bagi sebagian orang hidup di sebuah asrama tidaklah mudah. Bagi sebagian orang lagi hidup di asrama bagai sebuah petualangan besar dan menyenangkan. Semuanya tergantung dari pengalaman dan bagaimana kita menyikapinya. Bagiku, kehidupan asrama dan sekolah di SMA Kristen Barana' termasuk dalam tiga tahun yang paling menyenangkan dan penuh dengan memori yang tidak bisa kulupakan. Jika aku diberi kesempatan untuk mengulang waktu, tentu masa-masa tiga tahun itu akan kumasukkan ke dalam daftar.


Share:

Sabtu, 18 Februari 2017

Next Level of Life

"Every next level of your life will demand a different you" - Unknown

Sekitar lima tahun lalu setelah aku menamatkan diri dari dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Unpad, aku berpikir seperti para lulusan baru lainnya untuk mencari pekerjaan. Pemikiran yang simple karena begitulah stepnya. Jika dipikir-pikir, hidup telah memberikan standar-standar yang sadar atau tidak sadar kita ikuti. SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja-Nikah-Punya anak-Pensiun-Mati. Seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang harus kita lewati jika ingin bertahan di dunia yang kejam ini. Tentu aku berbicara dari sudut pandang yang normatif dan pendapat kebanyakan orang. Sekian persen dari penduduk bumi tidak mengikuti aturan baku tersebut. Ada yang memang karena keinginan sendiri ada pula yang terpaksa karena keadaan yang tidak memungkinkan. 

Aku sedang berada pada tingkatan pasca kuliah strata satu yang sudah mengecap dunia kerja. Normalnya, berdasarkan standar 'baku' semesta, aku harusnya sudah menikah seperti kebanyakan teman-teman di sekitarku. Tidak sedikit dari mereka yang sudah mempunyai anak. Tetapi di sinilah aku di sudut Kota Yogyakarta melanjutkan studi pascasarjana yang merupakan salah satu mimpi sedari dulu. Sebuah mimpi pribadi yang membuatku tidak mengikuti standar baku semesta. Bukannya aku tidak pernah berpikir untuk berada di posisi ini sekarang tetapi aku tidak bisa menebak waktunya adalah sekarang. Aku mengabaikan pertanyaan-pertanyaan "kapan nikah" yang bisa datang 20 kali dalam setahun sejak umurku mencapai angka 25. 

Aku tidak menyalahkan mereka yang mengikuti standar baku semesta karena mungkin mereka adalah orang-orang yang taat aturan. Bisa jadi menikah muda adalah salah satu jenis mimpi yang sedang trend di masa ini. Namun aku juga tidak menyalahkan diriku yang belum ke level yang seharusnya pada umur yang sudah pas. Bukankah yang kujalani adalah sebuah level lain yang juga menunjukkan peningkatan dari level hidup sebelumnya? Setiap orang khususnya seorang wanita pun berhak untuk menggapai mimpinya sebelum terkungkung dalam urusan rumah tangga walaupun tidak menutup kemungkinan juga untuk mengejar mimpi setelah berumah tangga. Semuanya adalah tentang kemungkinan.

Apapun pilihannya, yang kita perlukan adalah selalu meng-upgrade diri di level manapun kita berada. Level yang berbeda akan membawa kita menjadi orang yang berbeda. Berbeda dari segi kedewasaan dalam bersikap dan berpikir. Satu yang pasti, kenaikan level seharusnya membawa kita menjadi orang yang lebih baik.
Share:

Minggu, 22 Januari 2017

Pulau Rote, Selatan Yang Terlupakan

"No man is an island, entire of itself; every man is a piece of the continent, a part of the main" -John Donne-

Sepertinya aku pernah menceritakan tentang kebahagiaanku ditempatkan di Nusa Tenggara Timur. Aku rasa semua setuju bahwa daerah timur Indonesia menyimpan banyak keindahan yang tidak banyak diketahui orang. Aku yang berada di Kupang saat itu -tahun 2014- mempunyai banyak waktu luang untuk mengintip sedikit dari keindahan mereka. Pada suatu hari yang cerah akhirnya aku gunakan untuk menyeberang ke pulau paling selatan Indonesia, Pulau Rote -ada yang menyebutnya Pulau Roti-

Aku berangkat bersama teman kerjaku. Kami bersama-sama menghabiskan akhir minggu untuk mengunjungi tempat baru yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Dari Kupang tidak sulit untuk menuju Pulau Rote. Yang perlu dilakukan hanyalah datang ke pelabuhan dan membeli tiket untuk menyeberang. Anda bisa memilih untuk naik kapal cepat -sekitar 2 jam perjalanan- dari Pelabuhan Tenau atau naik kapal lambat -sekitar 4 jam perjalanan- dari Pelabuhan Bolok. Kami memilih naik kapal cepat karena kami tidak ingin menghabiskan waktu kami duduk di kapal tanpa melakukan apa-apa walaupun kami harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk itu. Rote is awaiting.

Dua jam menerjang ombak, aku memilih untuk duduk di luar, yang berarti langsung terkena sengatan matahari. Tetapi pilihan itu sulit untuk untuk disesali karena setimpal dengan apa yang bisa dilihat sepanjang perjalanan. Dalam 2 jam perjalanan tersebut, 30 menit kedua adalah waktu-waktu yang menegangkan karena kapal akan berada di perairan lepas dan merupakan pertemuan arus. Konon dulu di perairan tersebut terdapat kapal yang ditelan ombak karena dihantam gelombang. Tidak ada satupun penumpang ataupun awak yang dapat ditemukan. Cerita tersebut dan goncangan kapal membuat aku mengucapkan doa berkali-kali.

Ketika kapal sudah menerjang ombak seperti seharusnya dan sebuah 'muncung' pulau sudah terlihat, maka perjalanan tinggal setengahnya. Batu-batu karang sepanjang pinggiran pantai akan menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan. Tampak seperti tidak ada kehidupan di pulau ini. Sekitar satu jam aku mengedarkan pandangan di sepanjang pulau dan lautan. Pulau Timor memang memiliki surga yang tersembunyi. Namun kemudian aku menyadari bahwa itu belum ada apa-apanya dibandingkan keindahan di sisi pulau yang lain.

Setelah sekitar 2 jam perjalanan, tibalah kami di sebuah dermaga yang terbilang sepi. Tempat kecil itu mendapatkan statusnya sebagai dermaga dengan bantuan beberapa kapal yang sedang bersandar untuk sesaat serta aktifitas penumpang yang turun dari kapal yang baru saja tiba. Pulau Rote secara administratif berada di Kabupaten Rote Ndao yang beribukota di Ba'a, tepat di mana dermaga yang baru kami pijak berada. Untuk sebuah ibukota kabupaten, Ba'a menurutku terlalu kecil dan sepi. Hanya terlihat beberapa aktifitas warga yang sebagian besar adalah nelayan dan pegadang. Selain itu hanya ada satu bank yang melayani kegiatan perbankan warga, Jadi jangan heran jika hendak mengambil uang melalui mesin ATM, akan terjadi antrian yang sangat panjang. Begitu pula dengan urusan bahan bakar, hanya ada satu SPBU yang melayani masyarakat Pulau Rote untuk pengisian bahan bakar. Harga bahan bakar di sini lebih mahal dua kali sampai tiga kali lipat harga bahan bakar di Kupang, ibukota provinsi.

Sore itu kami langsung memacu motor menuju pantai yang tidak jauh dari dermaga. Air sedang surut jadi pantai terlihat lebih luas. Pantai ini terdiri dari pasir putih yang sangat bersih tanpa sampah. Beberapa meter dari bibir pantai, berdiri batu-batu karang berukuran besar berukuran 3-5 meter tingginya. Kami berfoto sepuasnya karena tidak ada orang lain di pantai itu. Matahari segera terbenam, kami memacu kembali motor kami untuk pulang dan tidak lupa singgah di sebuah perbukitan yang penuh rumput untuk melihat matahari menuju peraduannya. Malam itu kami tidur di rumah kontrakan salah satu teman kami yang bertugas di sana.

Umek Bubu, rumah khas yang berfungsi untuk menyimpan hasil panen atau hasil laut

Pagi hari kami sudah bersiap-siap untuk melihat sisi lain pulau. Perjalanan itu tidak akan terlupakan karena kami menaiki sebuah motor merk RX-King yang mengangkut kami bertiga. Aku tidak bisa berhenti tertawa karena kekonyolan itu. Perjalanan kami jauh ke timur dengan melewati padang rumput luas tempat sapi dan kuda sedang mencari makan. Sangat jarang terlihat rumah. Jarak rumah satu ke rumah lainnya bisa lebih dari satu kilometer. Tapi jangan tanya, jalan raya sepanjang pulau ini sangat mulus. Mungkin dikarenakan jarangnya kendaraan besar yang lewat.

Setelah memacu motor selama satu setengah jam danberistirahat untuk memakan bekal yang kami bawa di sebuah rawa laut yang sangat tenang, tibalah kami di sebuah pantai yang sangat sepi. Aku tidak bisa mendeskripsikan birunya air laut hari itu dan betapa indah pemandangan yang terbentang di depan mata kami. Ada beberapa kapal nelayan yang parkir di pinggir pantai yang bergoyang-goyang kecil diterpa angin laut. Tidak ada orang lain selain kami bertiga. Nelayan pemilik kapal pun tak nampak batang hidungnya sama sekali. Setelah puas menikmati, kami memacu motor kembali dengan formasi yang sama. Tidak jauh dari situ kami tiba di lagi di sebuah teluk kecil yang juga sangat sepi. Hanya ada sekitar 2 atau 3 penduduk yang sedang duduk santai. Ternyata mereka adalah para pencari rumput laut untuk dijual ke Ba'a. Begitu ditanya apakah mereka sering ke Kupang, mereka mengatakan bahwa hanya dari beberapa penduduk desa itu yang pernah menyeberang dan menginjak Kota Kupang. Bahkan untuk ke Ba'a pun bisa dihitung dengan jari. Mereka juga bercerita bahwa tidak banyak wisatawan yang datang ke pantai itu. Hanya beberapa wisatawan asing yang singgah untuk mengambil gambar kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Bo'a untuk berselancar. Pantai Bo'a adalah sebuah pantai yang konon adalah pantai pribadi milik Panji Soeharto, cucu dari mantan presiden Soeharto. Memang Nusa Tenggara Timur adalah salah satu saksi bisu kedigdayaan keluarga mantan orang satu di Indonesia itu.

Puluhan kerbau sedang berendam di rawa laut tempat kami beristirahat
Rumput laut yang dikeringkan yang kemudian dijual ke tengkulak

Matahari semakin condong ke barat. Kami berjalan sedikit ke balik tebing tidak jauh dari teluk tersebut dan kami menemukan sebuah pantai yang cukup luas yang didominasi oleh batu bukannya pasir seperti pantai yang lainnya. Aku duduk dan kembali tidak bisa berkata-kata karena tidak ada kata yang bisa menggambarkan birunya laut dan langit sore itu. Sejauh mata memandang hanya laut yang sangat bersih dan jauh dari jamahan manusia. Sebuah surga kecil yang tersimpan di pulau paling selatan Indonesia.

Pantai yang didominasi batu
Surga kecil di pulau paling selatan Indonesia


Aku pulang ke Ba'a dengan senyum yang sangat lebar. Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan yang akan membekas di hati dan pikiranku di mana aku bertemu dengan bergitu banyak hal baru. Semakin aku mengingatnya semakin aku yakin bahwa Tuhan menitipkan surga-surga kecil yang Tuhan titipkan di dunia ini. Salah satunya di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Share:

Sabtu, 12 November 2016

Karimunjawa, Surga di Utara Pulau Jawa

"A little sand between your toes always takes away your woes"

Indonesia terkenal dengan keindahan pantai dan kekayaan alam bawah lautnya. Keindahan dan kekayaan ini tersebar di seluruh pesisir Indonesia yang notabene berbentuk kepulauan. Pulau Jawa tidak ingin ketinggalan menyumbangkan salah satu spot menyelam terindah di negeri ini. Tersebutlah Pulau Karimunjawa yang secara administratif terletak di Kabupaten Jepara. Untuk menuju ke sana membutuhkan waktu sekitar 5 jam menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Kartini. Jika ingin lebih cepat anda bisa menggunakan kapal feri cepat yang bisa menempuh perjalanan hanya sekitar 2 jam. Kedatangan anda akan disambut oleh hamparan pantai dengan pasir putih dan air laut yang masih sangat bersih. Sangat berbeda dengan pelabuhan lain yang airnya sudah kotor terkontaminasi sisa limbah kapal. 

 
Karimunjawa berasal dari kata "kremun-kremun" atau yang dalam bahasa Indonesia berarti "kabur". Konon pulau ini adalah tempat Sunan Muria mengirim anaknya yang sangat nakal untuk belajar dan memperdalam ilmu agamanya. Pulau Karimunjawa tampak "kremun-kremun" atau "kabur" dari puncak Gunung Muria. Dari situlah muncul nama Karimunjawa.

Kepulauan Karimunjawa terdiri dari sekitar 27 (dua puluh tujuh) pulau besar dan kecil termasuk Pulau Karimunjawa di dalamnya. Dari pulau-pulau itu hanya sekitar 3-5 pulau yang berpenghuni. Jika ingin melihat keindahan laut, tinggal pilih spot yang mana. Semuanya tidak ada yang gagal. Anda dapat melihat berbagai jenis terumbu karang dan ikan laut. Selain keindahan bawah laut, pengunjung juga dimanjakan dengan pantai pasir putih di pulau-pulau kecil. Bagi yang suka berfoto, jangan khawatir karena di sepanjang pantai tersedia spot-spot foto yang akan membuat foto anda mendapat banyak like di media sosial. Dalam paket perjalanan yang ditawarkan juga terdapat kunjungan ke penangkaran hiu. Jangan khawatir, hiu-hiu ini adalah hiu jinak yang tidak akan memangsa, malah bisa diajak berfoto. Kapan lagi bisa berfoto dengan salah satu hewan laut yang terkenal buas.



Mengelilingi pulau dan menyelam tentu akan sangat menguras tenaga. Anda bisa singgah di sebuah pulau kecil dan menikmati ikan laut bakar yang dimakan dengan nasi panas. Makan siang ini sudah termasuk dalam paket perjalanan yang ditawarkan. Malam hari anda dapat menikmati aneka makanan yang dijajakan di sekitar alun-alun pulau. Harganya pun juga terjangkau. 



Paling tidak memerlukan waktu kurang lebih 3 hari 2 malam untuk menikmati semuanya. Makin lama makin puas makin enak. Tentunya dengan jaminan bahwa anda tidak akan rugi untuk mengeluarkan uang. Perjalanan ke Pulau Karimunjawa ini juga sangat aman untuk anda yang membawa keluarga. Jadi tunggu apa lagi, tandai kalender dan ambil waktu untuk berlibur menikmati alam yang disediakan oleh Sang Pencipta di utara Pulau Jawa ini.


PS. For more information BRAIGHT TOUR. Contact : Telp/WA +6281328345551, Line ID : braight22
Share: