Jumat, 25 Oktober 2019

Untuk Kamu di Umur Tiga Puluh Tahun

Hai kamu, how's life?
Bagaimana rasanya menginjak kepala tiga?

Sebelumnya, ku ucapkan selamat ulang tahun. Ada yang mengatakan saat ulang tahun kita bertambah umur tapi sebenarnya jatah umur kita berkurang di dunia. Kudoakan semoga sisanya berapa pun itu membuatmu senantiasa bisa bermanfaat bagi banyak makhluk.

Hidup rasanya banyak kesulitan ya setahun terakhir, tahun penghujung kamu berumur 20-an.
It's okay, sayang. Nyatanya kamu sudah tiba di titik ini. Mungkin belum sebuah titik puncak, tapi paling tidak kamu masih bertahan sejauh ini.

Aku ingin mengajakmu melihat sebentar ke belakang. Tidak apa-apa, kan?
Aku ingat terakhir kamu sempat mencatat apa saja yang kamu capai di setiap pertambahan umurmu dari lahir sampai sekarang. Perjalanan hidup yang menurutku menakjubkan, hidup yang mungkin didambakan beberapa orang. Mungkin untukmu itu adalah sebuah perjalanan yang biasa-biasa saja dan belum ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Kukira wajar untuk berpikir seperti itu. Lagipula, kita adalah manusia biasa.

Aku sangat tahu bahwa yang kamu lewati sejauh ini adalah sebuah perjuangan yang tidak mudah. Begitu banyak tangis dan kesepian yang datang. Aku tahu berapa malam yang kamu lewatkan sendiri sambil merenung, menangis kemudian berdoa dalam gelap kepada Tuhanmu. Aku pun tahu seberapa banyak kamu terlihat bahagia di depan orang lain tapi hatimu merasakan hal lain. Selain tidak ingin membuat orang terdekatmu khawatir, kamu juga memilih untuk membagi kesedihan hanya dengan orang yang bisa dipercaya dan mengerti.

Sekarang coba kita lihat sebanyak apa pengalaman yang sudah kamu dapatkan sejauh ini. Amat banyak. Kamu adalah salah satu orang yang beruntung bisa mendatangi banyak tempat, menimba ilmu di sekolah-sekolah terbaik, kemudian memperoleh banyak sekali teman yang kemudian menjadi sahabat setia. Kamu memiliki keluarga yang tidak sempurna tetapi selalu bisa memberikan ketenangan dan kebahagiaan yang tidak dimiliki orang lain. Kamu memiliki banyak orang yang dapat diandalkan dalam masa-masa sulit. Orang-orang yang akan membantumu tanpa banyak mempertanyakan pilihan-pilihanmu. Mereka, baik yang mempunyai pertalian darah atau pun orang asing yang sedekat saudara.

Beberapa pria juga pernah datang dan menjadi istimewa bagimu dalam beberapa waktu. Pria yang pernah memberimu cinta begitu pun sebaliknya. Kamu tahu sayang, tak ada yang pernah sia-sia dari waktu yang telah dijalani. Orang akan selalu datang dan pergi karena begitulah hukum alam yang berlaku. Orang yang datang bisa memberi kebahagiaan maupun kesedihan. Satu yang pasti, mereka memberikan pelajaran hidup yang berbeda-beda. Pelajaran penting untuk menjalani hari-hari selanjutnya. Pelajaran yang belum tentu didapatkan semua orang.

Di umur ketiga puluhmu ini, aku ingin mengatakan bahwa,

Mengeluh adalah hal yang manusiawi.
Marahlah jika ingin marah dengan mempertimbangkan konsekuensinya.
Menangislah jika itu membuatmu lebih baik.
Tetaplah menjadi dirimu sendiri karena kamu istimewa.
Bersyukurlah atas apa pun yang kamu lewati dan miliki.
Ikhlaskan dan terimalah masa lalu yang baik maupun buruk.
Cobalah memaafkan orang-orang yang pernah menyakiti hatimu.
Tetap berbuat baik sebisa dan semampumu kepada siapa pun.
Terus lakukan kegemaranmu dan apapun yang bisa membuatmu bahagia.
Mengobrollah lebih banyak dengan ayah ibumu agar di masa tua mereka tidak merasa kesepian.
Sayangi dan hargai saudaramu, sahabatmu dan orang-orang yang selalu ada untukmu.
Tetap tersenyum dan tularkan kebahagiaan sebanyak mungkin.
Ingatlah bahwa setiap orang punya pergumulan masing-masing, cobalah mengerti.
Tak ada batasan umur untuk bermimpi. Kejarlah apa yang kamu cita-citakan dan tetap yakin kamu bisa melakukan apa pun.
Teruslah belajar karena ilmu tak pernah berkesudahan.
Akan masih banyak hal yang akan terjadi, yang tidak sesuai dengan keinginanmu, di luar kekuatanmu. Oleh karena itu, pasrahkan seluruh hidupmu kepada Yang Maha Kuasa.

Satu hal lagi yang harus kamu tahu,
Aku dan banyak orang mencintaimu. Sangat.

Continue Reading...

Gundala; Pride of Indonesia!

"Jangan ikut campur urusan orang lain. Belajar urus diri lo sendiri" - Awang

Tuh dengerin kata Awang. Agak susah tapi ya buat orang-orang jaman now apalagi yang ekstrovert kayak gue. Tapi kita lagi gak ngebahas tentang kehidupan di dunia fana ini, kita lagi mau ngebahas tentang film superhero (jagoan) Indonesia yang baru aja tayang, Gundala Putra Petir. Film ini banyak yang ditunggu-tunggu oleh masyarakat Indonesia, paling gak yang suka nonton film atau yang baca komiknya. Kalo gue yang pertama karena gue terus terang gak baca komiknya. Sering denger doang selewat. Baru mulai cari tau pas Joko Anwar, sutradara film ini ngumumin tentang produksinya.


Jadi, Gundala ini tokoh komik yang diangkat ke layar lebar dan diproduksi secara serius. Serius dalam artian sebaik-baiknya, sebagus-bagusnya, semaksimalnya kemampuan sineas Indonesia biar jadi keren. Syukur kalo bisa nyamain film-film Marvel. Ya paling gak DC-lah. Itu udah tarif bawah kalo di dunia ojol. Cuma kalo gak nyamain juga gak apa-apa. Namanya juga usaha. Dan gue baru tau kalo Gundala ini salah satu karakter yang ada di semesta Bumi Langit. Ternyata karakter jagoan dari komik lama ini banyak banget. Gue taunya cuma Si Buta Dari Gua Hantu sama Mandala. Maklum, soalnya masa kecil dan remaja gue terenggut nonton Angling Darma sama Misteri Gunung Merapi. Gue beneran gak tau tuh kalo ada yang namanya Godam, Sri Asih, Virgo, Tira, Aquanus etc. Nah film Gundala ini ceritanya jadi pembuka rangkaian Bumi Langit Cinematic Universe. Kayak Iron Man gitulah pas ngebuka Marvel Cinematic Universe. Kenapa Gundala harus dibahas? Ya karena ini produk Indonesia. Indonesia bikin film superhero yang lumayan itu prestasi.


Gundala nama aslinya Sancaka, diperanin sama Abimana Aryasatya yang entah kenapa di peran ini jadi cakep banget. Sebelum-sebelumnya juga cakep sih tapi di sini berlipat-lipat cakepnya. Duh. Kehidupan Sancaka dari kecil diceritain di film ini. Ceritain gimana orang tuanya yang berjuang buat ngelawan ketidakadilan yang bikin bapaknya meninggal dan ibunya ngilang. Dari situ Sancaka berjuang idup sendiri. Akting adek yang jadi Sancaka kecil wagelaseh. Keren banget. Jadi pengen gue angkat jadi sodara rasanya. Dalam perjuangan hidup sendiri, Sancaka kecil ketemu sama cowok remaja namanya Awang dan ngajarin bela diri. Sayangnya mereka kepisah pas lagi ngejar kereta. Sancaka trus gede aja gitu berubah jadi cakep walaupun cuma pake baju satpam.


Film ini banyak adegan berantemnya. Adegan berantemnya bagus walaupun adegan berantem kayak gitu udah sering kita liat di film-film action Indonesia yang lain. Sancaka ngeluarin petirnya cuma beberapa kali, mungkin karena budget CGI yang mahal. Mungkin ya. Gak dijelasin detail kenapa Sancaka tau-tau bisa ngeluarin petir. Atau guenya yang gak merhatiin. Kalo menurut komiknya sih doi anak Raja Petir gitulah. Sancaka yang awalnya cuek sama keadaan sekitar karena gak mau ikut campur urusan orang lain (karena inget pesan Awang), mulai ngebela orang-orang gak bersalah trus lama-lama jadi vigilante macam Arrow gitu. Yang minta bantuannya modelan Tara Basro, ya bergetarlah jiwa patriotisme babang Sancaka.


Villain di sini namanya Pengkor, diperanin sama aktor Malaysia Bront Palarae. Salah satu yang aktingnya ciamik juga. Penceritaan tentang masa kecilnya dan gimana dia jadi Pengkor yang sekarang itu singkat tapi joss. Dia juga di film ini jadi bapaknya anak-anak. Anak-anak ini adalah anak-anak yatim yang dia bantu dan dilatih jadi pembunuh bayaran dengan profesi yang beragam. Anak-anak bapak yang muncul di Gundala castnya mantep-mantep banget walaupun pas mereka muncul kurang greget. Entah kurang dieksplor atau emang adegan berantemnya kurang bagus.


Plot cerita film Gundala kata sutradaranya Joko Anwar sedikit nyindir kondisi Indonesia. Perjuangan kaum buruh, orang-orang tertindas dan lemah. Gak lupa juga ada wakil-wakil rakyatnya. Untung di sini yang ditonjolin wakil rakyat yang memihak kepentingan yang empunya suara. Kalo dalam dunia nyata you knowlah yaaa.

Kayak film-film superhero khususnya Marvel, Gundala juga punya after credit scene yang ngasih liat tokoh lain dari Bumi Langit Cinematic Universe buat ngasih penonton kisi-kisi film-film selanjutnya. Salah satu villain yang awalnya temen Pengkor yaitu Ghazul (diperanin Ario Bayu) juga ngambil peran penting karena ngebangkitin salah satu villain terkuat yaitu Ki Wilawuk. Soooo, dari kisi-kisi ini bikin gak sabar buat nonton film-film selanjutnya.

Untuk sinematografi gue sih suka aja. Tone-nya enak diliat. Kalo udah sering liat film atau serial DC pasti udah gak asing. Dark-nya mirip-mirip. Jokesnya juga oke dan pas penempatannya. Cuma ya masih banyak yang perlu dibenerin lagi. Budgetnya dinaikin lagi sih bisa pecah. Tapi di balik segala kekurangannya, menurut gue Gundala jadi pembuka yang bagus buat film-film 'jagoan' Indonesia selanjutnya. Gak pernah nyangka sebenernya Indonesia bisa punya film sejenis ini dan gak kampring.

Bang, gak mau nambah istri gitu? Aku siap
Continue Reading...

Senin, 16 September 2019

Search WWW; All About Women's Power

"A woman is like a tea bag. You can't tell how strong she is until you put her into hot water" - Eleanor Roosevelt

Ngomongin drama korea kayaknya gak bakal abis-abis. Setiap minggu ada aja drakor baru yang tayang sampe waktu rasanya gak cukup banyak buat nonton itu semua. Produksinya juga makin gila-gilaan gak maen-maen. Pilihan cerita dan genrenya beragam tinggal pilih mana suka. Sepanjang gue nonton drakor, banyak yang munculin peran utama perempuan yang tertindas, lemah tapi mampu bangkit saat berada di titik bawah. Yang pemeran utamanya cewek semua juga ada, yang ngulik sisi kehidupan tiap pemeran. Tapi, Search WWW buat gue adalah drakor yang bener-bener nunjukin sisi kuat perempuan. Semacam drama women empowerment gitulah. Gue bahas di sini karena emang beda dari drakor biasanya.


Pemeran utamanya udah jelas perempuan semua. Bahkan peran-peran pembantu yang nempatin posisi penting dalam ceritanya dipegang sama perempuan. Misalnya nih ketua perusahaan yang berkuasa dan kaya raya, biasanya kan laki-laki (tua) tuh, di drama ini dipegangnya sama perempuan (tua) dong. Dari judulnya sih bisa kebaca kalo ceritanya seputar dunia internet. Yang jadi main role atau fokus cerita adalah tiga perempuan yang semuanya cantik, pinter dan menarik. Mereka bertiga punya latar belakang yang beda-beda tapi semuanya punya passion dan dedikasi pada pekerjaan yang gede. Bakal banyak scene di mana lo bakal bilang "wagelaseh" saking kerennya mereka. Permasalahan pribadi yang dihadapi juga beda-beda bentuknya, relatable dan gak lebay. Drama ini pengen ngegambarin kalo sehebat apapun perempuan di dunia kerja, mereka juga kadang galau kalo urusannya sama perasaan. Nah bedanya lagi, mereka galau ya sewajarnya aja. Galau ya galau tapi less drama. Gue malah amazing banget pas mereka kadang lebih banyak pake logika pas berhadapan ama masalah baik itu urusan kerjaan ataupun percintaan. Beberapa kali gue bilang gini "kalo gue jadi dia pasti gitu juga sih". Penulis ceritanya bikin konflik dan penyelesaian masalahnya naro kita di posisi abu-abu, gak hitam gak putih. 

Keteguhan mereka megang nilai-nilai yang diyakini walaupun banyak yang menentang atau gak suka menurut gue salah satu poin penting dalam drama ini. Tau kapan harus  terlihat kuat dan pada siapa harus nunjukin kelemahan juga list selanjutnya kenapa cerita di drama ini bagus banget menurut gue. Walaupun mereka badass banget, tetep diliatin mereka juga bisa down trus nangis kejer kalo emang bebannya udah berat banget. Jadi masuk akal. Bener-bener jarang banget (seenggaknya setau gue) drakor yang ceritanya kayak gini. Di drama ini bukan berarti gak ada peran cowo sama sekali. Mereka ada buat ngaduk-ngaduk hati cewe-cewe setrong ini. Gue juga bakal lemah sih kalo cowo-cowonya modelan gitu semua haha. Buat yang lagi berhadapan sama cewe setrong dan mandiri, bisa belajar dari cowo-cowo di drama ini. Cewenya udah logis banget kebayang jadi cowonya harus lebih logis lagi. Cewe-cewenya pinter, nah kebayang kan cara cowo-cowo ngimbangin mereka gimana. Teknik tarik ulurnya bangke banget juga sih.

Aaaaaa, pokoknya harus nonton ini. Terutama buat cewe-cewe di luaran sana yang lagi down atau butuh panutan, drama ini bakal menghibur banget. Gak perlu mikir berat-berat, gampang paham sama jalan ceritanya. 
Continue Reading...

Senin, 15 Juli 2019

Spider-Man Far From Home; Selamat Tinggal Tobey & Andrew

"With great power, comes great responsibility" 

Kalo mau bahas Spider-Man, kayaknya kurang afdol kalo quotes fenomenal ini gak ditulisin. Jadi setelah nonton semua film Spider-Man dari jaman Tobey Maguire sampe jaman Tom Holland, total semuanya ada 8 film termasuk versi animasinya Into The Spider-Verse, baru kali ini gue semangat buat nulis tentang kehidupan Peter Parker (yha trus kenapaaa). Spider-Man dari dulu sepenilaian gue adalah salah satu karakter Marvel yang lumayan banyak penggemarnya. Mungkin karena cerita klise bahwa setiap orang yang beruntung (atau terkutuk) -digigit binatang- bisa jadi superhero. Jadi kalo digigit nyamuk bisa berharap gitu nyamuknya kabur dari laboratorium yang lagi neliti serum canggih masa depan. Mungkin  juga karena kekuatannya unik gitu bisa ngeluarin jaring dan gelantungan pake kostum ketat di gedung-gedung tinggi serta bikin image laba-laba yang selama ini menakutkan/menjijikkan berubah jadi keren.

Manusia laba-laba
Setelah berjibaku dengan Tobey Maguire dan meyakini dia adalah sosok pemeran Peter Parker yang paling pas, muncullah Tom Holland. Si dedek lucu kesayangan kita semua. Sebelumnya gue mau minta maaf sama penggemar Andrew Garfield, karena gue ngerasa dia gak cocok sama sekali meranin Peter Parker walaupun jujur gue suka cerita versi Amazing Spider-Man. Gue juga suka dia jadian sama mbak Emma Stone yang jadi lawan mainnya di sini, walaupun akhirnya kandas juga. Mereka harus belajar sama Teuku Wisnu dan Shireen Sungkar tentang cara menjaga cinta lokasi yang awet. Tentu ini adalah pendapat yang subjektif banget. Diterima bagus gak diterima ya bodo amat. 

Babang Tobey, cinta pertama kita
Babang Andrew, yang biasa-biasa saja
Adek Tom,adek kita bersama
Jadi, pas Tom Holland muncul pertama kali di Captain America: Civil War perasaan gue agak ragu, "nih anak bisa gak ya jadi Spider-Man sebagus Tobey". Seiring waktu berjalan dan semakin seringnya doi muncul di film-film Marvel, gue yakin banget dia bakal jadi Peter Parker yang beda banget, in positive way. Bener aja. Tom Holland itu ngegemesin, kocak,  dan banyak bacot tapi gak annoying. Dedek-dedek gemes bangetlah. Interview-interview dia di youtube berperan besar dalam habisnya kuota gue. Susah buat dilewatkan. Dia pake aksen British adalah nilai plus. Di film-film tempat dia muncul juga line yang dikasih ke dia pas aja gitu. Anak remaja yang tiba-tiba punya superpower-nya dapet banget. Chemistry dia sama Robert Downey Jr (Tony Stark) lebih dapet lagi. Seketika pengen jadi sodaranya Peter Parker aja bawaannya.
Yang gak pernah bolos pelajaran kimia (if you know what i mean)
Setelah dibikinin film sendiri di Spider-Man Homecoming, muncul lagi nih film barunya Spider-Man Far From Home. Far From Home ini adalah film pertama dari semesta Marvel Cinematics pasca End Game. Kalo menurut para bacoters film sih ini penutup phase 3. 

Filmnya sendiri menurut gue bagus banget. Jelas kalo Tom Holland secara pribadi udah jadi laki-laki agak dewasa, tapi jiwa remajanya masih nempel banget di karakternya. Atau emang penulis skenarionya yang jago ngasih line-line yang remaja banget. Geli sendiri liat Peter Parker sama MJ malu-malu kucing pas nyatain perasaan. Geli tapi ya cute. Kalo dari segi ceritanya sih bagus-bagus aja. Pas. Ada part yang hampir bikin mewek karena keinget Tony Stark. Bisa aje kepikiran scene begitu. Belum lagi Aunt May seksi gilak. Image aunt May di Spider-Man sebelumnya luntur sudah. Jake Gylenhall mailop yang jadi Mysterio juga cakep beut. Pengen bawa pulang ke rumah. Temen-temennya Peter juga bego-bego kocak. Gurunya juga kek eek. Menghibur banget. Kalo dari actionnya gak usah ditanya. Itu super keren. Dari semua scene berantem Spider-Man gue paling demen yang di Far From Home ini. Gak tau kenapa. Apa jangan-jangan efek nonton di Imax? (shombonggg). 

Kalo di kelas udah di-ciee-ciee-in ini
Babang Jake, mailop. Brewokmu itu loh
"Tante". Udah itu aja.


Over all, Far From Home layak tonton banget sih. Nontonnya juga gak cukup sekali. After credit scene-nya bikin gak sabar buat phase selanjutnya. Jago bener ya Marvel nyari duitnya. Dan udah tau gitu kita tetap bersedia jadi budak bisnis ini. Ya udah doyan. Gimana dong. Oh iya, di sini juga bisa liat Tom Holland topless. Badannya udah jadi, otot2nya terbentuk jelas dan perutnya kotak-kotak gitu. Di situ deh gue nyadar kalo Tom udah bukan dedek-dedek gemes yang dulu lagi. Bentar lagi dia jadi pria. Yang beginian nih yang bikin naluri tante-tante keluar gak kekontrol. 

Finally, i can say, bye bye Tobey. Bye bye Andrew. Now, we have a new and fresh Spider-Man. You can take a rest for a long time.
Continue Reading...

Kamis, 11 Juli 2019

Everybody Is Struggling, Beibeh!

"Never underestimate the pain of a person because in all honesty, everyone is struggling. It's just some people hide it better than others"


Kalian pasti udah familiar banget sama kata-kata, "jangan liat ke atas mulu. coba sering-sering liat ke bawah biar lebih bersyukur. banyak orang yang masih lebih susah dari lo". Kata-kata ini biasanya dipake buat nasehatin orang yang ngeluh sama hidup dan keadaannya. Gue dulu sering diginiin dan sering giniin orang. Yap, old days. Gue akhirnya baca tulisan yang kira-kira gini bunyinya, "kenapa bersyukur harus nunggu liat orang lebih susah dari kita. bersyukur itu harusnya didasari dengan apa yang kita punya. gak perlu ngeliat orang lain yang punya lebih banyak atau lebih kurang dari kita". Tapi namanya manusia kan ya, susah buat ngilangin 'doktrin' ini dari dalam pikiran.

Gue ngerasa hidup berat akhir-akhir ini. Untung aja less drama. Seenggaknya menurut gue. Otak gue yang jarang dipake untuk hal-hal berfaedah ini, kadang penuh sama pertanyaan mulai dari yang bener sampe yang aneh-aneh. Gue coba menyelami apa sih tujuan dari semua ini dan coba nebak segala kemungkinan ke depan yang akurasinya juga paling di bawah 25 persen. 

Sembari gue mencoba menganalisa dan mengkalkulasi segala sesuatu, ada beberapa kejadian sedih yang terjadi di sekitar gue menimpa teman-teman terdekat gue. Dalam waktu sebulan ini, ada beberapa temen gue yang kehilangan orang tua. Gak cuma itu ada dua orang temen deket yang harus kehilangan bayi mereka. Kabar-kabar itu bikin gue kaget, sedih dan kemudian merenung panjang.

Gue makin sadar kalo orang tua kita bisa pergi kapan aja tanpa kita tau tanpa kita siap. Trus di masa-masa tua mereka, apa sih yang udah kita lakuin buat mereka. Apa kita udah bikin mereka bangga punya anak kayak kita. Hal yang paling gue takutin sekarang adalah belum jadi anak yang cukup berguna bagi orang tua. Gue juga pernah bilang, gue gak pernah bisa bayangin perasaan hancurnya orang tua yang kehilangan anaknya. Apa rasanya. Salah satu temen gue yang berduka menggambarkannya dengan, "rasanya kayak pengen mati juga". Oh God. Gue bahkan gak tau itu rasa sedih yang bisa tertahankan atau enggak.

Gue makin yakin kalo jalan hidup orang itu beda-beda. Bahagia dan deritanya juga jenisnya beda dan didapatkan di waktu serta keadaan yang beda-beda pula. Makanya membandingkan diri dengan orang lain itu udah jelas gak relevan karena kita pun start dari titik yang berbeda. Kemarin-kemarin gue sedih dan down karena alasan ini dan itu. Alasan-alasan buat bersedih itu pun jadi gak ada seujung kuku alasan orang lain yang notabene deket sama gue bersedih. Kalo mereka aja bisa survive kenapa gue enggak. Kalo mereka bisa kuat masa gue enggak. Kalo mereka ikhlas dan percaya bakal ada pelangi setelah hujan, kenapa gue enggak bisa.

Mungkin ini keliatan kontradiktif dengan konsep 'melihat orang lain', 'membandingkan diri dengan orang lain', dsb. Tapi beginilah kenyataannya. 'Doktrin' mengenai cara bersyukur emang gak bisa lepas gitu aja. Karena begitu lo jatoh, lo bakal langsung ngeliat ke sekeliling. Ngeliat gimana orang lain ngejelanin hidup dan bertahan dari segala badai yang datang dalam hidup mereka. Hal itu bisa bikin gue berpikir tenang dan akhirnya tau bahwa di dunia ini bukan cuma gue yang struggling. Semua orang lagi struggling dengan kondisi mereka masing-masing.

Tuhan emang Maha Kuasa ya. Pekerjaan-Nya sulit buat diselami dan dipahami. Cara-Nya buat menegur pun macam-macam dari yang lucu sampai menyakitkan sampe kita gak berdaya. Kita bener-bener cuma debu.
Continue Reading...

Rabu, 03 Juli 2019

Hari Ini Adalah Konsekuensi Pilihanmu

"In every single thing you do, you are choosing a direction. Your life is  product of choices" - Kathleen Hall



Rasanya sayang kalo cerita ini gak gue tulisin. Cerita tentang pilihan-pilihan di masa lalu dan penyesalan yang datang. Sebenernya gak nyesel-nyesel amat sih karena ngomonginnya juga sambil ketawa-ketawa. Sadar bahwa kami dulu milih jalan yang dianggap tepat tapi lihatlah di mana kami sekarang berada. Bentar ketawa dulu hahahahaha.

Jadi kemaren gue ketemu temen. Temen kuliah. Dia setahun di bawah gue. Kami gak sengaja ketemu di sebuah kafe dan cerita ngalor ngidul. Setelah curhat-curhatan tentang masalah hidup, mulailah dia bercerita tentang teman angkatannya dia (yang berarti adek tingkat gue juga) yang sekarang bekerja di sebuah instansi pemerintahan tingkat provinsi sebagai tangan kanan gubernur dan ngurusin kerja sama internasional. Secara penampilan, dia good looking. Lumayan cakep, menurut standar umum. Sebelumnya orang ini udah lulus S2 dari salah universitas di negeri Ratu Elizabeth. Gak sampe situ. Dia udah nikah sama wanita  cantik yang kerja di salah satu BUMN. Trus ada lagi. Katanya dia udah beli satu unit apartemen di pusat kota Bandung. Beli loh ya bukan nyewa. Sebuah kehidupan super nyaman impian sebagian besar manusia warga negara ber-flower ini.

Trus kenapa?

Pertama, gue gak inget sama sekali nih orang yang mana. Karena adek tingkat kan banyak jadi susah hapalinnya apalagi kalo orangnya gak eksis. Orang ini tipe kupu-kupu. Istilah buat mahasiswa yang habis kuliah langsung pulang gak pake acara nongkrong sama sekali. Bisa jadi dia punya kegiatan yang lebih penting lainnya atau emang dia gak punya temen sama sekali. Katanya dia sempet ikut organisasi extra kampus gitu tapi tetep gak eksis sama sekali.

Kedua, gue dan adik tingkat yang gue temuin ini adalah tipe kunang-kunang. Pulang kuliah ya nangkring. Syukur-syukur kalo masuk kuliah. Kuliah gak kuliah ya nangkringnya tetep jalan apapun yang terjadi. Tipe mahasiswa yang eksis di kegiatan kampus sebagai panitia ini itu yang lumayan dikenal anak jurusan lain di fakultas. Waktu itu ya bangga-bangga aja. Eksistensi adalah koentji!

Tipe yang pertama tau apa yang dia kerjakan dan mungkin aja udah tau habis kuliah mau ngapain serta udah ngerencanain step-step dalam hidupnya. Nah tipe kedua ini lebih let it flow ke manapun kaki melangkah dan nasib membawa ya terima-terima saja. Lanjut S2 di kampus lokal pun gak masalah. Kerjaan apapun yang datang selama asik dan menghasilkan uang ya sikat. 

Kami berdua lalu merenung. Bagaimana seandainya kami dulu memilih untuk jadi mahasiswa tipe pertama? Mungkinkah kami sekarang punya apartemen di pusat kota besar dan jabatan yang menjanjikan? Bisa jadi. Karena masalah skill yang 11 15 lah. Orang itu 11 kami yang 15 nya. Gak jauh-jauh amat. 

Trus apakah kami menyesal? Ya gak juga sih. Hahaha. Cuma kembali refleksi diri (cailah refleksi). Teori bahwa setiap pilihan membawa konsekuensi benar adanya. Kita hari ini adalah konsekuensi dari pilihan-pilihan yang kita buat di masa lalu. Gue pribadi gak pernah menyesali pilihan-pilihan yang gue buat di masa lalu. Kalaupun menyesal emangnya bisa apa? Gak mungkin kan balik ke masa lalu. The Flash aja balik ke masa lalu buat ngubah masa lalu akhirnya nyesel kok. Itu karena yang terjadi emang udah seharusnya terjadi. Lagian, gue menikmati banget kehidupan kuliah gue sebagai mahasiswa kunang-kunang. Keuntungannya gue banyak kenangan manis (dan pahit) trus banyak temen. Lagi ada masalah tempat curhatnya buanyak. Gak pernah ngerasa sendiri. Emang kenangan bisa beli mobil dan rumah? Ya enggaaak. Namanya juga see the positive side, cuk.

Sebelumnya gue juga habis ngobrol-ngobrol sama pendeta gereja gue. Kata beliau, masa lalu gak perlu disesali. Hal buruk yang terjadi dan sebagian orang yang datang di hidup kita dikirim buat jadi bahan pelajaran. Makanya kudu belajar, jangan bolos kuliah mulu. Yang paling penting itu ke depannya mau gimana. Harus jadi manusia yang lebih baik dan hidup semaksimal mungkin. Lagian jalan orang berbeda-beda dan dapat berkat yang beda-beda pula bentuknya. Mantap jiwa emang ibu pendeta andalan gue.
Continue Reading...

Senin, 01 Juli 2019

Segala Sesuatu Pasti Ada Akhirnya

"Tetap berjalan, tuan!"
"Tetap tabah. Segala sesuatu pasti ada akhirnya"

Masih teringat dengan jelas teriakan pelatih-pelatih yang merupakan seniorku di perhimpunan pecinta alam sekitar sebelas tahun yang lalu. Kata-kata ini pun keluar dari mulutku ketika menjadi pelatih bagi anggota-anggota baru organisasi kami. Bagiku, kata-kata ini sangat istimewa. Mempunyai makna dalam walaupun tidak selalu kuingat dan kuterapkan.


Masih teringat 'penderitaan' itu. Berjalan jauh tanpa tahu tujuan akhir dengan sepatu lars tentara yang bikin kaki lecet. Tentu saja dengan beban yang berat di carrier. Belum lagi selama perjalanan kami diguyur hujan. Kami harus menahan dingin karena baju yang basah dan angin yang bertiup kencang. Aku ingin menyerah pada hari pertama dan minta dipulangkan. Aku tidak kuat. Belum apa-apa pergelangan kakiku sudah luka karena tergesek sepatu. Fisikku lemah. Mentalku jatuh. Namun, ketakutanku untuk mengakui kelemahan itu pada senior membuatku tak pulang hari itu. "Kalo ngadu dan minta dipulangin ntar malah gue disiksa", pikirku waktu itu. Sehingga saat seorang senior berjalan di sebelahku selama melintasi sebuah kebun teh dan bertanya apakah aku ingin pulang, aku menjawab dengan keras, "tidak!". Sebanyak apapun dia bertanya, sebanyak itu pula aku memberi jawaban 'tidak'. Jawaban itu kemudian terbawa sampai pendidikan usai.

Semakin hari rasanya semakin berat. Malam sebelum tidur, aku berkontemplasi bertanya pada diriku mengapa aku ikut kegiatan seperti ini. Mengapa harus tidur di atas matras dan merasakan dingin padahal ada kasur empuk dan selimut hangat di kosan. Mengapa harus makan makanan seadanya sementara di Jatinangor banyak makanan enak yang tersedia. Mengapa harus berlelah-lelah berjalan jauh padahal nongkrong di kafe lebih nyaman. Kemudian di sinilah aku diperkenalkan dengan sesuatu yang bernama 'zona nyaman'. Kami berkali-kali diingatkan bahwa kami sedang berada di luar zona nyaman kami. Bahwa kami tidak akan selamanya merasa nyaman karena begitulah hidup. 

Selagi melewati masa-masa sulit saat ini, aku membaca sebuah postingan senior yang sedang mengenang masa-masa pendidikan dasar. Aku kemudian teringat dan sadar. 

Pendidikan dasar yang kulewati, yang penuh dengan kesakitan dan penderitaan adalah gambaran hidup menjadi manusia di dunia. Hidup tak akan selamanya nyaman. Hidup kadang tak memberimu kemudahan, malah memberi penderitaan dan kesakitan terus menerus. Terluka, kedinginan, kelaparan, kehausan, merasa terhina, mungkin terlalu ekstrim jika dirasakan dalam satu waktu sekaligus tetapi aku pernah mengalaminya dalam suatu waktu walaupun hanya berbentuk pelatihan. Yang jelas dalam keadaan ini kami belajar untuk bertahan. Kami harus kuat. Kami harus tabah. Karena katanya segala sesuatu pasti ada akhirnya. Apapun itu. Kebahagiaan. Kesusahan. Semuanya akan berakhir walaupun kita tidak tahu kapan dan bagaimana. Selain itu, fisik boleh lemah tetapi itu tak berarti apa-apa karena segala sesuatu dikendalikan oleh pikiran. Jika mental kuat dan yakin bahwa bisa melewati semua ini maka itulah yang akan terjadi. Pikiran inilah yang membuatku bertahan dalam kesakitan selama hampir dua minggu. 

Pertanyaan pentingnya, jika saat itu aku bisa bertahan dan melewati semuanya, mengapa saat ini aku tidak bisa bertahan? Jika aku pernah mengalami berada di titik nol dan bisa menyelesaikannya, mengapa sekarang tidak? Aku kembali berkontemplasi sembari mengingat suatu malam di masa pendidikan. Malam itu kami menginap di sebuah kebun teh setelah seharian berjalan naik turun bukit dan diguyur hujan. Tak hanya hujan, malam itu angin bertiup sangat kencang membawa hawa dingin yang tak biasa. Kabut tebal muncul dan bertahan hingga pagi. Kami di dalam 'tenda' yang terbuat dari ponco, tanpa sleeping bag, hanya bermodal kaus kaki tebal dan baju serta celana setengah kering tidur berdekatan berharap bisa saling menghangatkan. Aku masih bisa mengingat dinginnya malam itu... 
Continue Reading...

About

Blogroll

About