Sabtu, 08 April 2017

Barana' ; Tiga Tahun Belajar Kehidupan

"High school is when you start to realize who really matters, who never did and who always will" - Unknown - 

SMU Kristen Barana' di bawah naungan YPKT
Lahir dengan satu tekad mencerdaskan kehidupan bangsa...

Semuanya bermula ketika aku diutus oleh sekolah menengah pertamaku untuk ikut sebuah lomba bertajuk MIPA Kreatif di sebuah SMA yang terletak cukup jauh dari Kota Rantepao, tempatku bersekolah. Sekolah ini terkenal sebagai sekolah unggulan yang dicap terbaik saat itu. Ketika memasuki gerbangnya, bulu kudukku berdiri. "Sekolah macam apa ini?", kataku dalam hati. Aku, seorang anak SMP yang masih sangat polos memandang kagum dan takjub pada gedung sekolah yang tersusun rapi, aula yang besar, serta bangunan asrama siswa yang banyak dilindungi oleh pohon-pohon berbatang besar yang disebut pohon Barana'. Ketakjubanku tidak berhenti di situ. Siswa-siswa SMA tersebut muncul di depan kami dengan seragam orange mentereng namun mantap disertai langkah tegap yang penuh percaya diri. "Ini kakaknya kok keren-keren banget ya. Keliatannya pada pinter", kataku lagi dalam hati. Inilah kekuatan first impression. Aku berjanji dalam hati, lulus dari SMP aku harus masuk sekolah ini.


Gayung bersambut, nilai-nilaiku mendukung untuk aku bebas tes masuk ke dalam sekolah yang konon tidak mudah. Aku tidak sendiri, Aku bersama sekitar dua belas orang teman sekelasku juga mendaftar di sekolah tersebut. Sekolah ini mengharuskan setiap siswanya untuk tinggal di asrama selama menempuh pendidikan. Sebuah tantangan besar bagi para remaja labil seperti kami yang sudah terbiasa hidup nyaman bersama orang tua. Tapi demi kebaikan yang lebih besar serta dengan berpegang pada mimpi dan harapan kuberanikan diri menjalani hari-hari di sekolah itu. Dan tibalah hari pertama kami tercatat sebagai siswa SMA Kristen Barana'. Kala itu kami terhitung sebagai angkatan ke-12 berjumlah 74 orang. Sebagian besar adalah orang asli Toraja dan memang bersekolah di Toraja. Selebihnya orang Toraja yang berasal dari sekolah di luar Toraja. Bisa dibayangkan berpuluh-puluh orang dengan karakter yang berbeda dan berasal dari latar belakang yang berbeda harus hidup bersama selama 3 tahun full tanpa korting. Belum lagi dengan tambahan kakak kelas dua dan tiga, sekolah dan asrama bagai sebuah distrik kecil dengan segala kompleksitasnya. Sebuah kehidupan yang tidak akan mudah tetapi aku yakin bisa dilewati.

Setelah melalui masa orientasi sekolah yang rasanya seperti permen nano-nano -manis, asam, asin-, kehidupan yang sebenarnya dimulai. Kebiasaan yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya harus kujalani demi bertahan di tempat ini. Tidur beramai-ramai dalam satu kamar yang lebih cocok disebut bangsal, jadwal makan yang ditentukan oleh bunyi bel reot yang paling dinantikan di siang hari, ke sekolah tidak perlu membawa tas karena jarak asrama dan ruang kelas yang sangat dekat, mandi di sumur tradisional milik penduduk di kala kemarau datang dan masih banyak lagi yang tidak akan habis aku sebutkan satu per satu. Sadar tidak sadar kebiasaan itu membawa kami pada pribadi yang baru.


Kelas satu adalah masa adaptasi. Masa di mana ke-labil-an masa SMP masih terbawa. Masa di mana kami menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Masa di mana anak putri mempunyai kakak kelas idola dan berlomba-lomba untuk mendapat perhatian. Masa di mana anak putra yang sekarang tampak gagah, tampak sangat culun. Anak putra lebih aktif berkegiatan baik itu belajar maupun berolahraga. Kami anak putri lebih suka berada di kamar, bergosip atau tidur di atas kasur nyaman yang tertata rapi. Aku belum bisa menemukan jawaban mengapa kecenderungan seperti itu ada. Entah kebiasaan itu masih ada sampai sekarang atau sudah berubah. Pada tahun pertama ini juga kami mulai tahu dan paham tentang hubungan senior-junior -yang juga rasanya nanonano- yang pada akhirnya berubah menjadi hubungan adik-kakak. Pada tahun ini kami belajar untuk segan dan hormat kepada guru dan kakak kelas yang lebih dulu menghuni asrama. Kami belajar bahwa memasuki sebuah lingkungan baru membutuhkan penyesuaian dan rasa hormat kepada penghuni lama. Kami tidak boleh seenaknya dan harus mengikuti aturan sosial yang ada.



Kelas dua adalah masa paling santai sekaligus masa penuh kebingungan. Aku sebut masa paling santai karena kami sudah mulai menyesuaikan diri dengan kondisi asrama dan sekolah. Kami juga tidak perlu berpikir tentang masa orientasi seperti kelas satu dan berpikir tentang ujian akhir serta waktu meninggalkan asrama seperti kelas tiga. Aku sebut masa penuh kebingungan karena kami berada di tengah-tengah di antara adik dan kakak. Terkadang kami harus bersikap seperti kakak kepada kelas satu tetapi di sisi lain kami tetap harus bersikap seperti adik kala berhadapan dengan kelas tiga. Tetapi itu bukan suatu perkara besar. Kelas dua dapat kami lewati denga mulus dengan segala dramanya. Pada masa ini kami belajar bahwa hidup kadang menempatkan kita pada posisi yang nyaman sehingga harus segera sadar dan kembali mengingat apa tujuan awal. Masa ini juga memberi pelajaran bahwa terkadang hidup menempatkan kita pada posisi yang tidak enak sehingga kita harus pandai bersikap dan menempatkan diri agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.



Kelas tiga adalah masa paling nyaman sekaligus masa penuh tanda tanya. Aku sebut masa paling nyaman karena dua tahun terlewati dengan mulus. Kehidupan di sekolah dan asrama terasa mengalir seperti air. Kami leluasa dan dapat berekspresi sesuai dengan keinginan. Aku sebut penuh tanda tanya karena kami semakin dekat dengan tahap yang lain yaitu masa kuliah. Kami mulai bertanya-tanya tentang rencana selanjutnya dan bagaimana kami dapat mengakhiri masa-masa SMA dengan manis. Kami mulai belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir namun tentunya masih diisi oleh kegiatan-kegiatan asrama yang menyenangkan. Pada masa ini kami belajar bahwa suatu saat kita akan diberi tanggung jawab untuk menjadi contoh bahkan inspirasi bagi orang lain. Oleh karena itu kita harus belajar untuk bersikap dewasa. Masa ini juga mengajari kami untuk menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang ada.


Tidak ada satupun institusi pendidikan yang mengajarkan hal buruk kepada peserta didiknya. Apalagi sebuah sekolah dengan label "kristen". Namun tidak dapat dipungkiri dengan latar belakang berbeda dengan karakter yang berbeda dan tinggal di dalam atap yang sama tentu tidak membuat kami terhindar dari konflik. Hal itu adalah sesuatu yang wajar. Bukankah yang penting adalah bagaimana penyelesaiannya? Toh konflik dalam pandangan modern dianggap sebagai sebuah tantangan bagi sebuah kelompok atau organisasi untuk dapat berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik. Kecuali bagi yang masih berpikiran tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Anda termasuk yang mana? :p

Bagi sebagian orang hidup di sebuah asrama tidaklah mudah. Bagi sebagian orang lagi hidup di asrama bagai sebuah petualangan besar dan menyenangkan. Semuanya tergantung dari pengalaman dan bagaimana kita menyikapinya. Bagiku, kehidupan asrama dan sekolah di SMA Kristen Barana' termasuk dalam tiga tahun yang paling menyenangkan dan penuh dengan memori yang tidak bisa kulupakan. Jika aku diberi kesempatan untuk mengulang waktu, tentu masa-masa tiga tahun itu akan kumasukkan ke dalam daftar.


Share:

Sabtu, 18 Februari 2017

Next Level of Life

"Every next level of your life will demand a different you" - Unknown

Sekitar lima tahun lalu setelah aku menamatkan diri dari dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Unpad, aku berpikir seperti para lulusan baru lainnya untuk mencari pekerjaan. Pemikiran yang simple karena begitulah stepnya. Jika dipikir-pikir, hidup telah memberikan standar-standar yang sadar atau tidak sadar kita ikuti. SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja-Nikah-Punya anak-Pensiun-Mati. Seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang harus kita lewati jika ingin bertahan di dunia yang kejam ini. Tentu aku berbicara dari sudut pandang yang normatif dan pendapat kebanyakan orang. Sekian persen dari penduduk bumi tidak mengikuti aturan baku tersebut. Ada yang memang karena keinginan sendiri ada pula yang terpaksa karena keadaan yang tidak memungkinkan. 

Aku sedang berada pada tingkatan pasca kuliah strata satu yang sudah mengecap dunia kerja. Normalnya, berdasarkan standar 'baku' semesta, aku harusnya sudah menikah seperti kebanyakan teman-teman di sekitarku. Tidak sedikit dari mereka yang sudah mempunyai anak. Tetapi di sinilah aku di sudut Kota Yogyakarta melanjutkan studi pascasarjana yang merupakan salah satu mimpi sedari dulu. Sebuah mimpi pribadi yang membuatku tidak mengikuti standar baku semesta. Bukannya aku tidak pernah berpikir untuk berada di posisi ini sekarang tetapi aku tidak bisa menebak waktunya adalah sekarang. Aku mengabaikan pertanyaan-pertanyaan "kapan nikah" yang bisa datang 20 kali dalam setahun sejak umurku mencapai angka 25. 

Aku tidak menyalahkan mereka yang mengikuti standar baku semesta karena mungkin mereka adalah orang-orang yang taat aturan. Bisa jadi menikah muda adalah salah satu jenis mimpi yang sedang trend di masa ini. Namun aku juga tidak menyalahkan diriku yang belum ke level yang seharusnya pada umur yang sudah pas. Bukankah yang kujalani adalah sebuah level lain yang juga menunjukkan peningkatan dari level hidup sebelumnya? Setiap orang khususnya seorang wanita pun berhak untuk menggapai mimpinya sebelum terkungkung dalam urusan rumah tangga walaupun tidak menutup kemungkinan juga untuk mengejar mimpi setelah berumah tangga. Semuanya adalah tentang kemungkinan.

Apapun pilihannya, yang kita perlukan adalah selalu meng-upgrade diri di level manapun kita berada. Level yang berbeda akan membawa kita menjadi orang yang berbeda. Berbeda dari segi kedewasaan dalam bersikap dan berpikir. Satu yang pasti, kenaikan level seharusnya membawa kita menjadi orang yang lebih baik.
Share:

Minggu, 22 Januari 2017

Pulau Rote, Selatan Yang Terlupakan

"No man is an island, entire of itself; every man is a piece of the continent, a part of the main" -John Donne-

Sepertinya aku pernah menceritakan tentang kebahagiaanku ditempatkan di Nusa Tenggara Timur. Aku rasa semua setuju bahwa daerah timur Indonesia menyimpan banyak keindahan yang tidak banyak diketahui orang. Aku yang berada di Kupang saat itu -tahun 2014- mempunyai banyak waktu luang untuk mengintip sedikit dari keindahan mereka. Pada suatu hari yang cerah akhirnya aku gunakan untuk menyeberang ke pulau paling selatan Indonesia, Pulau Rote -ada yang menyebutnya Pulau Roti-

Aku berangkat bersama teman kerjaku. Kami bersama-sama menghabiskan akhir minggu untuk mengunjungi tempat baru yang belum pernah kami lihat sebelumnya. Dari Kupang tidak sulit untuk menuju Pulau Rote. Yang perlu dilakukan hanyalah datang ke pelabuhan dan membeli tiket untuk menyeberang. Anda bisa memilih untuk naik kapal cepat -sekitar 2 jam perjalanan- dari Pelabuhan Tenau atau naik kapal lambat -sekitar 4 jam perjalanan- dari Pelabuhan Bolok. Kami memilih naik kapal cepat karena kami tidak ingin menghabiskan waktu kami duduk di kapal tanpa melakukan apa-apa walaupun kami harus mengeluarkan uang yang lebih banyak untuk itu. Rote is awaiting.

Dua jam menerjang ombak, aku memilih untuk duduk di luar, yang berarti langsung terkena sengatan matahari. Tetapi pilihan itu sulit untuk untuk disesali karena setimpal dengan apa yang bisa dilihat sepanjang perjalanan. Dalam 2 jam perjalanan tersebut, 30 menit kedua adalah waktu-waktu yang menegangkan karena kapal akan berada di perairan lepas dan merupakan pertemuan arus. Konon dulu di perairan tersebut terdapat kapal yang ditelan ombak karena dihantam gelombang. Tidak ada satupun penumpang ataupun awak yang dapat ditemukan. Cerita tersebut dan goncangan kapal membuat aku mengucapkan doa berkali-kali.

Ketika kapal sudah menerjang ombak seperti seharusnya dan sebuah 'muncung' pulau sudah terlihat, maka perjalanan tinggal setengahnya. Batu-batu karang sepanjang pinggiran pantai akan menjadi pemandangan yang sangat menakjubkan. Tampak seperti tidak ada kehidupan di pulau ini. Sekitar satu jam aku mengedarkan pandangan di sepanjang pulau dan lautan. Pulau Timor memang memiliki surga yang tersembunyi. Namun kemudian aku menyadari bahwa itu belum ada apa-apanya dibandingkan keindahan di sisi pulau yang lain.

Setelah sekitar 2 jam perjalanan, tibalah kami di sebuah dermaga yang terbilang sepi. Tempat kecil itu mendapatkan statusnya sebagai dermaga dengan bantuan beberapa kapal yang sedang bersandar untuk sesaat serta aktifitas penumpang yang turun dari kapal yang baru saja tiba. Pulau Rote secara administratif berada di Kabupaten Rote Ndao yang beribukota di Ba'a, tepat di mana dermaga yang baru kami pijak berada. Untuk sebuah ibukota kabupaten, Ba'a menurutku terlalu kecil dan sepi. Hanya terlihat beberapa aktifitas warga yang sebagian besar adalah nelayan dan pegadang. Selain itu hanya ada satu bank yang melayani kegiatan perbankan warga, Jadi jangan heran jika hendak mengambil uang melalui mesin ATM, akan terjadi antrian yang sangat panjang. Begitu pula dengan urusan bahan bakar, hanya ada satu SPBU yang melayani masyarakat Pulau Rote untuk pengisian bahan bakar. Harga bahan bakar di sini lebih mahal dua kali sampai tiga kali lipat harga bahan bakar di Kupang, ibukota provinsi.

Sore itu kami langsung memacu motor menuju pantai yang tidak jauh dari dermaga. Air sedang surut jadi pantai terlihat lebih luas. Pantai ini terdiri dari pasir putih yang sangat bersih tanpa sampah. Beberapa meter dari bibir pantai, berdiri batu-batu karang berukuran besar berukuran 3-5 meter tingginya. Kami berfoto sepuasnya karena tidak ada orang lain di pantai itu. Matahari segera terbenam, kami memacu kembali motor kami untuk pulang dan tidak lupa singgah di sebuah perbukitan yang penuh rumput untuk melihat matahari menuju peraduannya. Malam itu kami tidur di rumah kontrakan salah satu teman kami yang bertugas di sana.

Umek Bubu, rumah khas yang berfungsi untuk menyimpan hasil panen atau hasil laut

Pagi hari kami sudah bersiap-siap untuk melihat sisi lain pulau. Perjalanan itu tidak akan terlupakan karena kami menaiki sebuah motor merk RX-King yang mengangkut kami bertiga. Aku tidak bisa berhenti tertawa karena kekonyolan itu. Perjalanan kami jauh ke timur dengan melewati padang rumput luas tempat sapi dan kuda sedang mencari makan. Sangat jarang terlihat rumah. Jarak rumah satu ke rumah lainnya bisa lebih dari satu kilometer. Tapi jangan tanya, jalan raya sepanjang pulau ini sangat mulus. Mungkin dikarenakan jarangnya kendaraan besar yang lewat.

Setelah memacu motor selama satu setengah jam danberistirahat untuk memakan bekal yang kami bawa di sebuah rawa laut yang sangat tenang, tibalah kami di sebuah pantai yang sangat sepi. Aku tidak bisa mendeskripsikan birunya air laut hari itu dan betapa indah pemandangan yang terbentang di depan mata kami. Ada beberapa kapal nelayan yang parkir di pinggir pantai yang bergoyang-goyang kecil diterpa angin laut. Tidak ada orang lain selain kami bertiga. Nelayan pemilik kapal pun tak nampak batang hidungnya sama sekali. Setelah puas menikmati, kami memacu motor kembali dengan formasi yang sama. Tidak jauh dari situ kami tiba di lagi di sebuah teluk kecil yang juga sangat sepi. Hanya ada sekitar 2 atau 3 penduduk yang sedang duduk santai. Ternyata mereka adalah para pencari rumput laut untuk dijual ke Ba'a. Begitu ditanya apakah mereka sering ke Kupang, mereka mengatakan bahwa hanya dari beberapa penduduk desa itu yang pernah menyeberang dan menginjak Kota Kupang. Bahkan untuk ke Ba'a pun bisa dihitung dengan jari. Mereka juga bercerita bahwa tidak banyak wisatawan yang datang ke pantai itu. Hanya beberapa wisatawan asing yang singgah untuk mengambil gambar kemudian melanjutkan perjalanan ke Pantai Bo'a untuk berselancar. Pantai Bo'a adalah sebuah pantai yang konon adalah pantai pribadi milik Panji Soeharto, cucu dari mantan presiden Soeharto. Memang Nusa Tenggara Timur adalah salah satu saksi bisu kedigdayaan keluarga mantan orang satu di Indonesia itu.

Puluhan kerbau sedang berendam di rawa laut tempat kami beristirahat
Rumput laut yang dikeringkan yang kemudian dijual ke tengkulak

Matahari semakin condong ke barat. Kami berjalan sedikit ke balik tebing tidak jauh dari teluk tersebut dan kami menemukan sebuah pantai yang cukup luas yang didominasi oleh batu bukannya pasir seperti pantai yang lainnya. Aku duduk dan kembali tidak bisa berkata-kata karena tidak ada kata yang bisa menggambarkan birunya laut dan langit sore itu. Sejauh mata memandang hanya laut yang sangat bersih dan jauh dari jamahan manusia. Sebuah surga kecil yang tersimpan di pulau paling selatan Indonesia.

Pantai yang didominasi batu
Surga kecil di pulau paling selatan Indonesia


Aku pulang ke Ba'a dengan senyum yang sangat lebar. Perjalanan ini adalah sebuah perjalanan yang akan membekas di hati dan pikiranku di mana aku bertemu dengan bergitu banyak hal baru. Semakin aku mengingatnya semakin aku yakin bahwa Tuhan menitipkan surga-surga kecil yang Tuhan titipkan di dunia ini. Salah satunya di Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur.

Share:

Sabtu, 12 November 2016

Karimunjawa, Surga di Utara Pulau Jawa

"A little sand between your toes always takes away your woes"

Indonesia terkenal dengan keindahan pantai dan kekayaan alam bawah lautnya. Keindahan dan kekayaan ini tersebar di seluruh pesisir Indonesia yang notabene berbentuk kepulauan. Pulau Jawa tidak ingin ketinggalan menyumbangkan salah satu spot menyelam terindah di negeri ini. Tersebutlah Pulau Karimunjawa yang secara administratif terletak di Kabupaten Jepara. Untuk menuju ke sana membutuhkan waktu sekitar 5 jam menggunakan kapal feri dari Pelabuhan Kartini. Jika ingin lebih cepat anda bisa menggunakan kapal feri cepat yang bisa menempuh perjalanan hanya sekitar 2 jam. Kedatangan anda akan disambut oleh hamparan pantai dengan pasir putih dan air laut yang masih sangat bersih. Sangat berbeda dengan pelabuhan lain yang airnya sudah kotor terkontaminasi sisa limbah kapal. 

 
Karimunjawa berasal dari kata "kremun-kremun" atau yang dalam bahasa Indonesia berarti "kabur". Konon pulau ini adalah tempat Sunan Muria mengirim anaknya yang sangat nakal untuk belajar dan memperdalam ilmu agamanya. Pulau Karimunjawa tampak "kremun-kremun" atau "kabur" dari puncak Gunung Muria. Dari situlah muncul nama Karimunjawa.

Kepulauan Karimunjawa terdiri dari sekitar 27 (dua puluh tujuh) pulau besar dan kecil termasuk Pulau Karimunjawa di dalamnya. Dari pulau-pulau itu hanya sekitar 3-5 pulau yang berpenghuni. Jika ingin melihat keindahan laut, tinggal pilih spot yang mana. Semuanya tidak ada yang gagal. Anda dapat melihat berbagai jenis terumbu karang dan ikan laut. Selain keindahan bawah laut, pengunjung juga dimanjakan dengan pantai pasir putih di pulau-pulau kecil. Bagi yang suka berfoto, jangan khawatir karena di sepanjang pantai tersedia spot-spot foto yang akan membuat foto anda mendapat banyak like di media sosial. Dalam paket perjalanan yang ditawarkan juga terdapat kunjungan ke penangkaran hiu. Jangan khawatir, hiu-hiu ini adalah hiu jinak yang tidak akan memangsa, malah bisa diajak berfoto. Kapan lagi bisa berfoto dengan salah satu hewan laut yang terkenal buas.



Mengelilingi pulau dan menyelam tentu akan sangat menguras tenaga. Anda bisa singgah di sebuah pulau kecil dan menikmati ikan laut bakar yang dimakan dengan nasi panas. Makan siang ini sudah termasuk dalam paket perjalanan yang ditawarkan. Malam hari anda dapat menikmati aneka makanan yang dijajakan di sekitar alun-alun pulau. Harganya pun juga terjangkau. 



Paling tidak memerlukan waktu kurang lebih 3 hari 2 malam untuk menikmati semuanya. Makin lama makin puas makin enak. Tentunya dengan jaminan bahwa anda tidak akan rugi untuk mengeluarkan uang. Perjalanan ke Pulau Karimunjawa ini juga sangat aman untuk anda yang membawa keluarga. Jadi tunggu apa lagi, tandai kalender dan ambil waktu untuk berlibur menikmati alam yang disediakan oleh Sang Pencipta di utara Pulau Jawa ini.


PS. For more information BRAIGHT TOUR. Contact : Telp/WA +6281328345551, Line ID : braight22
Share:

Kamis, 18 Agustus 2016

Satu Dekade United Indonesia ; Sebuah Autokritik

"It's not how big the house is, It's how happy the home is" -unknown-

Menurut wikipedia, komunitas adalah sebuah kelompok sosial dari beberapa organisme yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama. Komunitas berasal dari bahasa latin "communitas" yang berarti "kesamaan", kemudian dapat diturunkan dari kata "communis" yang berarti "sama, publik, dibagi oleh semua atau banyak"

Sebelumnya, perkenalkan saya adalah sebuah organisme yang memiliki ketertarikan kepada sebuah klub sepakbola bernama Manchester United dan tergabung dalam sebuah komunitas bernama United Indonesia. Pada hari ini, United Indonesia memperingati hari jadinya yang ke-10. Satu Dekade. 

United Indonesia resmi didirikan pada tanggal 20 Agustus 2006 oleh enam orang yang kami sebut Founder. Mereka yang 'menemukan' ide untuk membentuk komunitas pecinta klub Man United di Indonesia (lagi) setelah mereka lepas dari 'saudara tua' yang lebih dulu terbentuk pada tahun 2000. Anggota United Indonesia -yang kemudian disingkat UI- pada awal-awal pembentukan sebagian besar merupakan anggota yang hijrah dari komunitas serupa yang sebelumnya ada. Kepindahan mereka mungkin mengikuti prinsip komunitas tentang "kesamaan". Ada hal yang sudah berbeda. Bisa jadi itu tujuan atau cara pandang. Jika anda seorang Kristiani, anda tentu pernah mendengar cerita Alkitab tentang kehidupan jemaat mula-mula yang disampaikan dalam kitab Kisah Para Rasul. Mereka berkumpul setiap hari, bersekutu, dan bertekun dalam pengajaran rasul-rasul tentang firman Tuhan. Mereka berbagi apa saja yang mereka miliki dan hidup dengan bahagia. Begitulah kira-kira kehidupan 'jemaat mula-mula' dari United Indonesia. Mereka berkumpul hampir setiap hari dan bertekun dalam 'pengajaran' tentang klub 'Setan Merah" dari kota Manchester dan bahagia dalam Dunia Georgie Best.

Saya bergabung dengan United Indonesia tepat setelah mereka merayakan ulang tahun yang ke-5. Kala itu yang saya tahu adalah bagaimana mendapatkan teman yang mempunyai ketertarikan sama pada Man United. Saya juga ingin merasakan bagaimana euforia 'memuja' tim kesayangan bersama-sama dengan mereka yang memiliki 'keyakinan' yang sama. Semuanya adalah tentang bersenang-senang. Setiap hari ada organisme-organisme baru yang menginginkan hal yang sama dengan saya. Komunitas ini semakin besar diiringi dengan segala kompleksitasnya. Sampai pada umurnya yang ke-10 ini, United Indonesia sudah mengembangkan sayap ke seluruh Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Lebih dari 100 regional -kami menyebutnya chapter- menyatakan diri sebagai bagian dari keluarga besar UI dengan jumlah member yang sudah melewati angka 10.000. Sebuah angka yang fantastis bagi sebuah komunitas pecinta klub sepakbola yang berada nun jauh di sana.

Semakin banyak kepala, semakin banyak karakter, semakin banyak kepentingan mewarnai pertumbuhan komunitas tercinta ini. Perbedaan pendapat dan pandangan sampai kesalahpahaman sering terjadi. United Indonesia adalah sebuah keluarga. Tidak seorangpun anggotanya akan rela melihat keluarganya diganggu atau perlahan digrogoti oleh 'penyakit' dari dalam. Anggota yang memiliki rasa cinta pasti akan melakukan apapun untuk mempertahankan keutuhan keluarganya. Walaupun cara yang dipakai akan berbeda-beda karena cara setiap orang menunjukkan cinta tidaklah sama. Lalu semuanya akan kembali kepada komunikasi. Komunikasi yang baik akan menyelesaikan masalah. 'Kepala keluarga' terkadang harus memposisikan diri sebagai sahabat bagi 'anak-anaknya' yang sedang merengek atau mengkritik. Jika dia tetap mempertahankan filosofi dan 'rasa gengsi' sebagai seorang 'pencari nafkah', maka anak-anak tersebut tidak akan bertumbuh dengan baik. Saya teringat oleh kata-kata mantan ketua umum UI yang juga seorang teman dekat, Moris Megaloman -waktu itu sudah tidak berambut merah dan alay-, "Setiap kesalahan orang-orang di kepengurusan saya adalah kesalahan saya. Selama saya masih mampu menanggung kesalahan mereka, akan saya tanggung. Selama saya mampu untuk memuaskan setiap pihak, saya akan berusaha. Tetapi kita tidak bisa membahagiakan setiap orang. Terkadang kita gagal. Namun yang penting adalah berusaha sebaik mungkin untuk bekerja tanpa mengharapkan apa-apa".

Dalam komunitas dengan segala fluktuasinya, Teori Darwin tentang seleksi alam pun mau tidak mau berlaku. "Spesies yang berhasil beradaptasi dengan baik akan terus bertahan hidup, sedangkan yang tidak dapat beradaptasi akan punah". Banyak spesies yang datang dan pergi. Mereka yang pergi bisa saja sudah tidak bisa beradaptasi dengan kondisi komunitas yang makin kompleks. Atau dengan alasan yang sangat sederhana yaitu rasa jenuh. Saya sendiri pernah merasakan jenuh. Kehidupan berkomunitas itu kadang menjenuhkan. Bertemu dengan orang itu-itu saja akan menjenuhkan. Performa Man United menurun dan tidak sesuai dengan ekspektasi pun sangat menjemukan. Tetapi jika anda menganggap komunitas sebagai 'rumah', rasa jenuh itu akan kalah oleh rasa rindu untuk pulang.

Saya merasa sangat bangga menjadi bagian dari keluarga besar ini. Saya mendapatkan sangat banyak di sini dengan hanya bisa memberi sangat sedikit sebagai rasa terima kasih. Saya berada pada titik di mana saya berada sekarang karena keluarga ini. Saya tidak pernah menyesali pilihan saya untuk bergabung dengan keluarga ini. Saya berterima kasih kepada Sang Pencipta setiap kali mengingat apa yang sudah saya lewati dan saya alami di dalam keluarga ini. I couldn't ask more.

Sepuluh tahun bukan waktu yang sebentar. Saya mengagumi mereka yang bertahan sedemikian lama. Walaupun mereka sudah tidak intens mengurusi tetek bengek organisasi, saya yakin mereka masih concern terhadap apapun yang tejadi dalam tubuh United Indonesia. Mereka akan selalu ada saat dibutuhkan. Mereka akan selalu ada untuk mengkritik ataupun mendukung. Karena bagi mereka dan sebagian United Indonesia adalah sebuah rumah yang selalu memanggil untuk pulang. Dalam peringatan satu dekade ini, saya mengajak kalian para organisme-organisme yang punya tujuan sama untuk menilik kembali alasan komunitas ini dibentuk. Sekali lagi, semuanya hanyalah tentang bersenang-senang dan berbagi. Bisakah kita hidup lagi seperti 'jemaat mula-mula'?


@mayarararocks, member United Indonesia yang sangat biasa

NB. Tulisan ini telah dipublikasikan di www.offside.id

Share: