Sabtu, 08 April 2017

Barana' ; Tiga Tahun Belajar Kehidupan

"High school is when you start to realize who really matters, who never did and who always will" - Unknown - 

SMU Kristen Barana' di bawah naungan YPKT
Lahir dengan satu tekad mencerdaskan kehidupan bangsa...

Semuanya bermula ketika aku diutus oleh sekolah menengah pertamaku untuk ikut sebuah lomba bertajuk MIPA Kreatif di sebuah SMA yang terletak cukup jauh dari Kota Rantepao, tempatku bersekolah. Sekolah ini terkenal sebagai sekolah unggulan yang dicap terbaik saat itu. Ketika memasuki gerbangnya, bulu kudukku berdiri. "Sekolah macam apa ini?", kataku dalam hati. Aku, seorang anak SMP yang masih sangat polos memandang kagum dan takjub pada gedung sekolah yang tersusun rapi, aula yang besar, serta bangunan asrama siswa yang banyak dilindungi oleh pohon-pohon berbatang besar yang disebut pohon Barana'. Ketakjubanku tidak berhenti di situ. Siswa-siswa SMA tersebut muncul di depan kami dengan seragam orange mentereng namun mantap disertai langkah tegap yang penuh percaya diri. "Ini kakaknya kok keren-keren banget ya. Keliatannya pada pinter", kataku lagi dalam hati. Inilah kekuatan first impression. Aku berjanji dalam hati, lulus dari SMP aku harus masuk sekolah ini.


Gayung bersambut, nilai-nilaiku mendukung untuk aku bebas tes masuk ke dalam sekolah yang konon tidak mudah. Aku tidak sendiri, Aku bersama sekitar dua belas orang teman sekelasku juga mendaftar di sekolah tersebut. Sekolah ini mengharuskan setiap siswanya untuk tinggal di asrama selama menempuh pendidikan. Sebuah tantangan besar bagi para remaja labil seperti kami yang sudah terbiasa hidup nyaman bersama orang tua. Tapi demi kebaikan yang lebih besar serta dengan berpegang pada mimpi dan harapan kuberanikan diri menjalani hari-hari di sekolah itu. Dan tibalah hari pertama kami tercatat sebagai siswa SMA Kristen Barana'. Kala itu kami terhitung sebagai angkatan ke-12 berjumlah 74 orang. Sebagian besar adalah orang asli Toraja dan memang bersekolah di Toraja. Selebihnya orang Toraja yang berasal dari sekolah di luar Toraja. Bisa dibayangkan berpuluh-puluh orang dengan karakter yang berbeda dan berasal dari latar belakang yang berbeda harus hidup bersama selama 3 tahun full tanpa korting. Belum lagi dengan tambahan kakak kelas dua dan tiga, sekolah dan asrama bagai sebuah distrik kecil dengan segala kompleksitasnya. Sebuah kehidupan yang tidak akan mudah tetapi aku yakin bisa dilewati.

Setelah melalui masa orientasi sekolah yang rasanya seperti permen nano-nano -manis, asam, asin-, kehidupan yang sebenarnya dimulai. Kebiasaan yang tidak pernah aku lakukan sebelumnya harus kujalani demi bertahan di tempat ini. Tidur beramai-ramai dalam satu kamar yang lebih cocok disebut bangsal, jadwal makan yang ditentukan oleh bunyi bel reot yang paling dinantikan di siang hari, ke sekolah tidak perlu membawa tas karena jarak asrama dan ruang kelas yang sangat dekat, mandi di sumur tradisional milik penduduk di kala kemarau datang dan masih banyak lagi yang tidak akan habis aku sebutkan satu per satu. Sadar tidak sadar kebiasaan itu membawa kami pada pribadi yang baru.


Kelas satu adalah masa adaptasi. Masa di mana ke-labil-an masa SMP masih terbawa. Masa di mana kami menyesuaikan diri dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Masa di mana anak putri mempunyai kakak kelas idola dan berlomba-lomba untuk mendapat perhatian. Masa di mana anak putra yang sekarang tampak gagah, tampak sangat culun. Anak putra lebih aktif berkegiatan baik itu belajar maupun berolahraga. Kami anak putri lebih suka berada di kamar, bergosip atau tidur di atas kasur nyaman yang tertata rapi. Aku belum bisa menemukan jawaban mengapa kecenderungan seperti itu ada. Entah kebiasaan itu masih ada sampai sekarang atau sudah berubah. Pada tahun pertama ini juga kami mulai tahu dan paham tentang hubungan senior-junior -yang juga rasanya nanonano- yang pada akhirnya berubah menjadi hubungan adik-kakak. Pada tahun ini kami belajar untuk segan dan hormat kepada guru dan kakak kelas yang lebih dulu menghuni asrama. Kami belajar bahwa memasuki sebuah lingkungan baru membutuhkan penyesuaian dan rasa hormat kepada penghuni lama. Kami tidak boleh seenaknya dan harus mengikuti aturan sosial yang ada.



Kelas dua adalah masa paling santai sekaligus masa penuh kebingungan. Aku sebut masa paling santai karena kami sudah mulai menyesuaikan diri dengan kondisi asrama dan sekolah. Kami juga tidak perlu berpikir tentang masa orientasi seperti kelas satu dan berpikir tentang ujian akhir serta waktu meninggalkan asrama seperti kelas tiga. Aku sebut masa penuh kebingungan karena kami berada di tengah-tengah di antara adik dan kakak. Terkadang kami harus bersikap seperti kakak kepada kelas satu tetapi di sisi lain kami tetap harus bersikap seperti adik kala berhadapan dengan kelas tiga. Tetapi itu bukan suatu perkara besar. Kelas dua dapat kami lewati denga mulus dengan segala dramanya. Pada masa ini kami belajar bahwa hidup kadang menempatkan kita pada posisi yang nyaman sehingga harus segera sadar dan kembali mengingat apa tujuan awal. Masa ini juga memberi pelajaran bahwa terkadang hidup menempatkan kita pada posisi yang tidak enak sehingga kita harus pandai bersikap dan menempatkan diri agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.



Kelas tiga adalah masa paling nyaman sekaligus masa penuh tanda tanya. Aku sebut masa paling nyaman karena dua tahun terlewati dengan mulus. Kehidupan di sekolah dan asrama terasa mengalir seperti air. Kami leluasa dan dapat berekspresi sesuai dengan keinginan. Aku sebut penuh tanda tanya karena kami semakin dekat dengan tahap yang lain yaitu masa kuliah. Kami mulai bertanya-tanya tentang rencana selanjutnya dan bagaimana kami dapat mengakhiri masa-masa SMA dengan manis. Kami mulai belajar untuk mempersiapkan diri menghadapi ujian akhir namun tentunya masih diisi oleh kegiatan-kegiatan asrama yang menyenangkan. Pada masa ini kami belajar bahwa suatu saat kita akan diberi tanggung jawab untuk menjadi contoh bahkan inspirasi bagi orang lain. Oleh karena itu kita harus belajar untuk bersikap dewasa. Masa ini juga mengajari kami untuk menemukan solusi terhadap masalah-masalah yang ada.


Tidak ada satupun institusi pendidikan yang mengajarkan hal buruk kepada peserta didiknya. Apalagi sebuah sekolah dengan label "kristen". Namun tidak dapat dipungkiri dengan latar belakang berbeda dengan karakter yang berbeda dan tinggal di dalam atap yang sama tentu tidak membuat kami terhindar dari konflik. Hal itu adalah sesuatu yang wajar. Bukankah yang penting adalah bagaimana penyelesaiannya? Toh konflik dalam pandangan modern dianggap sebagai sebuah tantangan bagi sebuah kelompok atau organisasi untuk dapat berubah dan berkembang ke arah yang lebih baik. Kecuali bagi yang masih berpikiran tradisional, konflik dianggap sebagai sesuatu yang buruk dan harus dihindari. Anda termasuk yang mana? :p

Bagi sebagian orang hidup di sebuah asrama tidaklah mudah. Bagi sebagian orang lagi hidup di asrama bagai sebuah petualangan besar dan menyenangkan. Semuanya tergantung dari pengalaman dan bagaimana kita menyikapinya. Bagiku, kehidupan asrama dan sekolah di SMA Kristen Barana' termasuk dalam tiga tahun yang paling menyenangkan dan penuh dengan memori yang tidak bisa kulupakan. Jika aku diberi kesempatan untuk mengulang waktu, tentu masa-masa tiga tahun itu akan kumasukkan ke dalam daftar.


Share:

0 komentar:

Posting Komentar