Langsung ke konten utama

Next Level of Life

"Every next level of your life will demand a different you" - Unknown

Sekitar lima tahun lalu setelah aku menamatkan diri dari dari Jurusan Ilmu Pemerintahan Unpad, aku berpikir seperti para lulusan baru lainnya untuk mencari pekerjaan. Pemikiran yang simple karena begitulah stepnya. Jika dipikir-pikir, hidup telah memberikan standar-standar yang sadar atau tidak sadar kita ikuti. SD-SMP-SMA-Kuliah-Kerja-Nikah-Punya anak-Pensiun-Mati. Seakan-akan hal itu adalah sesuatu yang harus kita lewati jika ingin bertahan di dunia yang kejam ini. Tentu aku berbicara dari sudut pandang yang normatif dan pendapat kebanyakan orang. Sekian persen dari penduduk bumi tidak mengikuti aturan baku tersebut. Ada yang memang karena keinginan sendiri ada pula yang terpaksa karena keadaan yang tidak memungkinkan. 

Aku sedang berada pada tingkatan pasca kuliah strata satu yang sudah mengecap dunia kerja. Normalnya, berdasarkan standar 'baku' semesta, aku harusnya sudah menikah seperti kebanyakan teman-teman di sekitarku. Tidak sedikit dari mereka yang sudah mempunyai anak. Tetapi di sinilah aku di sudut Kota Yogyakarta melanjutkan studi pascasarjana yang merupakan salah satu mimpi sedari dulu. Sebuah mimpi pribadi yang membuatku tidak mengikuti standar baku semesta. Bukannya aku tidak pernah berpikir untuk berada di posisi ini sekarang tetapi aku tidak bisa menebak waktunya adalah sekarang. Aku mengabaikan pertanyaan-pertanyaan "kapan nikah" yang bisa datang 20 kali dalam setahun sejak umurku mencapai angka 25. 

Aku tidak menyalahkan mereka yang mengikuti standar baku semesta karena mungkin mereka adalah orang-orang yang taat aturan. Bisa jadi menikah muda adalah salah satu jenis mimpi yang sedang trend di masa ini. Namun aku juga tidak menyalahkan diriku yang belum ke level yang seharusnya pada umur yang sudah pas. Bukankah yang kujalani adalah sebuah level lain yang juga menunjukkan peningkatan dari level hidup sebelumnya? Setiap orang khususnya seorang wanita pun berhak untuk menggapai mimpinya sebelum terkungkung dalam urusan rumah tangga walaupun tidak menutup kemungkinan juga untuk mengejar mimpi setelah berumah tangga. Semuanya adalah tentang kemungkinan.

Apapun pilihannya, yang kita perlukan adalah selalu meng-upgrade diri di level manapun kita berada. Level yang berbeda akan membawa kita menjadi orang yang berbeda. Berbeda dari segi kedewasaan dalam bersikap dan berpikir. Satu yang pasti, kenaikan level seharusnya membawa kita menjadi orang yang lebih baik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mahabharata : Bagi Mereka Yang Mencari Ketenangan Jiwa

"Sebuah roman epik pencerah hati manusia". Begitu sampul buku Mahabharata yang baru selesai saya baca. Buku ini saya beli Bulan Maret lalu di sebuah pameran buku yang mengadakan diskon besar - besaran. Sebenarnya, saya dulu pernah membacanya sampai habis tapi ada keinginan untuk membaca ulang.
Mahabharata menceritakan tentang perang Bharatayudha, perang saudara terbesar yang pernah ada dan menewaskan jutaan orang. Perang tersebut terjadi antara Pandawa dan Kurawa yang disebabkan oleh rasa iri, dengki dan rasa tidak pernah puas atas apa yang sudah dimiliki. Paling tidak, itulah kepercayaan orang India yang sebagian besar beragama Hindu. Saya tidak akan membahas dari segi agama. Cerita ini seperti dongeng atau drama kolosal yang membuat saya seperti berada pada zaman itu dan dapat membuat saya tenggelam dengan imajinasi saya sendiri. Dalam buku ini banyak kata - kata yang menohok hati dan membuat kita berpikir bahwa ternyata dari zaman ke zaman permasalahan manusia itu sama n…

Puasa di Kampung Naga

Kampung Naga, bahasa kerennya Dragon Village, tapi itu hanya sebutan iseng dari kami yang hidup pada masa “sok inggris”. Hari itu saya, Cahaya dan Gufi, teman saya di organisasi pecinta alam, berencana jalan-jalan ke Kampung Naga yang ada di Tasikmalaya. Kami sudah sering mendengar Kampung Naga dan penasaran ingin melihat langsung kehidupan masyarakat di kampung adat ini. Ditemani oleh Jabir dan Jaya, 2 orang senior di Palawa Unpad, organisasi pecinta alam yang kami masukiawal tahun 2008, kami berangkat ke Tasikmalaya dengan menggunakan elf (kendaraan semi bis). Perjalanan yang memakan waktu sekitar 3 jam itu, cukup menyenangkan karena cuaca yang cerah dan sepanjang jalan, kita dapat menikmati pemandangan alam yang indah. Kampung Naga terletak di perbatasan Kabupaten Garut dan Kabupaten Tasikmalaya, tetepi wilayahnya sudah masuk ke dalam wilayah Kabupaten Tasikmalaya. Pemukiman penduduk Kampung Naga, terletak di bawah lembahan yang dapat dicapai dengan menuruni anak tangga yang berjum…

Gendut? Hell yeah!

"Lo tambah gendut deh", "Kok lo gendut banget sih?", "Ternyata lo pendek ya", "Tinggi lo berapa sih?". Pertanyaan yang biasa tapi sedikit mengganggu. Sedikit? Iya, iya, kadang-kadang banyak. Sebenernya gue sering nanya ke diri sendiri, sejak kapan gue kepikiran masalah kayak gitu. Oke well, sebagai sekedar informasi gue mau mendeskripsikan diri gue secara fisik. Gue gendut, gak terlalu tinggi, cuma satu setengah meter lebih beberapa senti. Paha ama betis gue gede. Malah ada temen gue yang bilang betis gue segede paha gue. Kebayang kan gedenya gimana. Lengan gue juga gede tapi untungnya gak segede paha gue. Bagian dada juga lumayan gede tapi gak segede punya Julia Perrez. Perut buncit tapi juga gak segede punya pejabat-pejabat di senayan sana. Cuma ada lipatan-lipatan lemak yang terbentuk karena jarang sit-up. Muka sejauh ini gak ada masalah. Normal-normal aja sejauh pemantauan gue di depan cermin. Rambut lurus hitam panjangnya sebahu. Ini yang m…