Januari 2012 merupakan masa-masa
penting dalam tahap kehidupan saya. Pada bulan dan tahun itu, saya
menyelesaikan pendidikan di perguruan tinggi setelah berkutat di kampus selama
sekitar 4 tahun lebih. Keberhasilan saya
itu, saya anggap harus diapresiasi dengan sebuah hadiah. Hadiah dari diri saya
sendiri. Oleh karena itu, saya merencakan sebuah perjalanan ke Malang, sebuah
kota di daerah Jawa Timur. Di sana, ada beberapa teman saya yang juga sedang
menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sudah sangat lama saya ingin ke kota
ini tetapi keadaan dan waktu selalu tidak mengijinkan.
Saya berangkat dari Stasiun
Bandung menuju Stasiun Gubeng, Surabaya menggunakan kereta bisnis kala itu.
Harganya 200 ribu rupiah. Dulu saat kuliah saya beberapa kali melakukan
perjalanan ke Surabaya saat saya mempunyai uang lebih atau uang jajan yang
dialihkan menjadi uang jalan-jalan. Di Surabaya juga banyak teman dekat yang
tinggal untuk kuliah. Perjalanan dari Bandung ke Surabaya menggunakan kereta
setidaknya membutuhkan 18 jam. Jika berangkat sore, maka akan tiba besok
paginya. Tidak masalah karena saya adalah tipikal orang yang akan menghabiskan
waktu itu untuk tidur sambil mendengarkan musik. Saya berencana akan bermalam
sehari di Surabaya kemudian ke Malang menggunakan bis.
![]() | |
Taman Pelangi, Surabaya |
Sore kala itu hujan deras turun
di Kota Pahlawan itu tetapi tidak mengurangi niat saya untuk ke Malang. Berdua
dengan Joe, seorang teman dekat kala SMA, kami menuju terminal dan naik sebuah
bis eknonomi yang menuju Malang. Hanya perlu membayar 8000 rupiah untuk
menikmati bis ber-AC. Perjalanan ke Malang yang seharunya hanya sekitar 2 jam
menjadi lebih lama karena macet di Porong – Sidoarjo. Saya sendiri belum pernah
melihat semburan lumpur yang merendam daerah tersebut yang sekarang katanya
sudah menjadi objek wisata.
Tiba di terminal Malang, kami
dijemput oleh Bowo, teman dekat sekaligus saudara sepupu saya dan dibawa ke
rumah kontrakan mereka di daerah Candisari. Rumah yang cukup besar yang dihuni
oleh saudara saya yang lain yang juga melanjutkan pendidikan di Malang. Malang
merupakan salah satu tujuan utama kawan-kawan SMA saya untuk melanjutkan
kuliah. Di sana ada Universitas Brawaijaya dan juga Institut Teknik Negara
(ITN). Jadi tidak heran jika ke Malang saya akan mengharapkan sebuah reuni
dengan mereka.
Bakso Malang yang terkenal
seantero negeri sudah saya nikmati, selanjutnya saya mendesak teman-teman saya
yang lain untuk pergi ke Gunung Bromo. Sia-sia rasanya jika ke Malang dan tidak
meneruskan perjalanan ke Gunung Bromo. Dengan bakat merayu dan sedikit
“memaksa” saya berhasil mengajak Nina dan Januar, juga teman seperjuangan kala
SMA. Ikut juga Tommy, adik kelas kemudian Peni dan Marin, dua orang sepupu yang
meneruskan kuliah di Malang. Mendatangi Gunung Bromo sudah sangat lama saya
idamkan dan kali ini adalah kesempatan saya sekaligus reuni dengan teman SMA.
Kami berangkat tengah itu dengan menggunakan sebuah mobil sewaan menuju
Probolinggo. Tiba di desa terakhir, kami memarkir mobil dan menyewa mobil hard top. Hal ini karena aturan baru
oleh pengelola Taman Nasional Bromo Tengger Semeru yang tidak memperbolehkan
kendaraan pribadi di bawa sampai ke atas kaki Gunung Bromo. Semacam kebijakan
lokal agar tidak mengurangi pendapatan masyarakat sekitar dan untuk
pertimbangan keamanan.
![]() |
Pananjakan dan pemandangan Gunung Bromo di belakangnya |
![]() |
Lereng Gunung Bromo |
![]() |
Savana "Bukit Teletubbies" |
![]() | |
Pasir Berbisik |
Matahari terbit yang kami tunggu di Pananjakan tidak sesuai dengan harapan karena tertutup oleh awan. Pagi itu gerimis dan tidak cerah seperti biasanya. Tetap berdiri di atas tempat tinggi dan melihat semua keindahan Gunung Bromo dan Gunung Semeru di belakangnya cukup membayar kekecewaan kami karena tidak melihat matahari terbit yang konon paling indah di seantero Jawa. Matahari mulai naik dan kami melanjutkan perjalanan ke kaki Gunung Bromo masih menggunakan mobil hard top yang kami sewa. Kawah yang berbau belerang, padang savana yang luas, hamparan pasir yang juga tak kalah luasnya yang terkenal dengan sebutan "Pasir Berbisik" karena merupakan tempat syuting sebuah film yang berjudul sama beberapa tahun silam yang diperankan oleh aktris terkenal Christine Hakim dan Dian Sastro, tidak ingin kami lewatkan begitu saja sehingga kami rela menambah tarif sewa mobil. Sebuah reuni di Gunung Bromo, gunung yang dianggap suci oleh Suku Tengger, keturunan dari Roro Anteng dan Jaka Seger yang legendaris. Dan seperti setiap perjalanan yang selalu menyisakan kesan, perjalanan kali ini benar-benar lovely. A lovely place with lovely friends.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar